Showing posts with label Gizi. Show all posts
Showing posts with label Gizi. Show all posts

KEMENKES RI Sahkan Vaksin Sinopharm C-19 2022

5:18:00 PM Add Comment
Vaksin Omicron


Tambah Regimen Baru Vaksin Booster, Total Ada 6 Jenis Vaksin COVID-19 yang Dipakai di Indonesia. Pemerintah telah resmi menambahkan regimen vaksin booster, yakni vaksin Sinopharm. Dengan demikian ada 6 jenis regimen vaksin booster yang digunakan di Indonesia.

Keenam regimen tersebu antara lain vaksin Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, Moderna, Janssen (J&J), dan vaksin Sinopharm. Pelaksanaan vaksinasi booster dapat dilaksanakan di seluruh kabupaten/kota bagi masyarakat umum.

Pemberian dosis booster dilakukan melalui dua mekanisme antara lain Homolog, yaitu pemberian dosis booster dengan menggunakan jenis vaksin yang sama dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah didapat sebelumnya. Sementara Heterolog, yaitu pemberian dosis booster dengan menggunakan jenis vaksin yang berbeda dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah didapat sebelumnya.

Regimen dosis booster yang dapat diberikan yaitu jika vaksin primer Sinovac, maka vaksin booster bisa menggunakan 3 jenis vaksin antara lain AstraZeneca separuh dosis (0,25 ml), Pfizer separuh dosis (0,15 ml), dan Moderna dosis penuh (0,5 ml).

Vaksin primernya AstraZeneca maka boosternya bisa menggunakan vaksin Moderna separuh dosis (0,25 ml), vaksin Pfizer separuh dosis (0,15 ml), dan vaksin AstraZeneca dosis penuh (0,5 ml). Vaksin primer Pfizer, untuk booster bisa menggunakan vaksin Pfizer dosis penuh (0,3 ml), Moderna separuh dosis (0,25 ml), dan AstraZeneca dosis penuh (0,5 ml).

Vaksin primer Moderna, booster dengan menggunakan vaksin yang sama separuh dosis (0,25 ml). Kemudian vaksin primer Janssen (J&J), maka untuk booster dengan menggunakan Moderna separuh dosis (0,25 ml).

Selanjutnya vaksin primer Sinopharm booster nya menggunakan vaksin Sinopharm juga dengan dosis penuh (0,5 ml).

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmidzi mengatakan vaksin booster yang digunakan berdasarkan ketersediaan di setiap daera.

"Vaksin yang digunakan untuk dosis booster ini disesuaikan dengan ketersediaan vaksin di masing-masing daerah dengan mengutamakan vaksin yang memiliki masa expired terdekat. Di samping itu, vaksinasi dosis primer tetap harus dikejar agar dapat mencapai target," katanya di Jakarta, Senin (28/2).

Tata cara pemberian, tempat pelaksanaan, alur pelaksanaan dan pencatatan vaksinasi COVID-19 tetap mengacu pada Surat Edaran Nomor HK.02.02/II/252/2022 tentang Vaksinasi COVID-19 Dosis Lanjutan (Booster).


Sumber :

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati, MKM Kemenkes


Penjelasan Lengkap Tentang STUNTING

2:35:00 AM Add Comment


Biologi Kehidupan


Kondisi serius pada anak yang ditandai dengan tinggi badan anak di bawah rata-rata atau anak sangat pendek serta tubuhnya tidak bertumbuh dan berkembang dengan baik sesuai usianya dan berlangsung dalam waktu lama, itulah Stunting. Mari kita bahas bersama pada pembahasan dibawa ini :

 

A.      Apa itu stunting?

Stunting adalah kondisi kurang gizi kronis yang ditandai dengan tubuh pendek pada anak balita (di bawah 5 tahun). Anak yang mengalami stunting akan terlihat pada saat menginjak usia 2 tahun.  Seorang anak dikatakan mengalami stunting apabila tinggi badan dan panjang tubuhnya minus 2 dari standar Multicentre Growth Reference Study atau standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO. Selain itu, Kementerian Kesehatan RI menyebut stunting adalah anak balita dengan nilai z-skor nya kurang dari -2SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari -3SD (severely stunted).

 

B.       Memahami darurat stunting di Indonesia

 Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi yang dilansir dari situs Kemenkes RI, pada 2016 angka prevalensi stunting di Indonesia sebesar 27,5 persen. Artinya sekitar 1 dari 3 balita di Indonesia mengalami stunting. Bahkan pada 2017 angkanya meningkat menjadi 29, 6 persen. Angka ini menempatkan Indonesia berada pada status kronis. Sebab WHO mengklasifikasikan negara mengalami status kronis jika angka prevalensinya melebihi 20 persen. Angka ini juga menempatkan Indonesia di posisi teratas angka stunting terparah di Asia tenggara. Negara tetangga kita yakni Malaysia, angka prevalensinya hanya 17,2 persen.

 

C.      Dampak stunting pada anak

 Selain pertumbuhan yang terhambat, stunting pada anak juga dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan dan juga sosial di masa depan. Dilansir dari Buletin Stunting Kemenkes RI tahun 2018 berikut beberapa dampak stunting.

Ø    Dampak stunting pada anak jangka pendek:

a)        Meningkatkan potensi sakit dan kematian pada anak

b)        Perkembangan kognitif, motorik, dan verbal anak menjadi terhambat dan tidak optimal

c)        Meningkatkan biaya kesehatan.

Ø    Dampak stunting pada anak jangka panjang:

a)    Postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa, lebih pendek ketimbang orang-orang seusianya

b)    Meningkatkan risiko obesitas dan mengidap Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes, kanker, dan lain-lain.

c)     Kesehatan reproduksi yang menurun

d)    Kapasitas belajar dan performa yang tidak optimal saat masa sekolah

e)     Produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal saat dewasa.

 

 Dilansir dari laporan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), stunting juga memiliki dampak panjang pada pertumbuhan negara. Dari produktivitas rendah bisa mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan ekonomi yang nantinya bisa meningkatkan angka kemiskinan dan memperlebar angka ketimpangan ekonomi.

 

D.  Penyebab stunting

 Stunting tidak terjadi begitu saja, melainkan dimulai dari janin hingga sang anak menginjak usia 2 tahun. Minimnya asupan nutrisi pada usia 1.000 Hari Pertumbuhan Anak (HPK) menjadi faktor utama penyebab stunting pada anak. 

 

1)        Kurangnya edukasi soal asupan gizi saat hamil

 Kurangnya pengetahuan ibu terkait kesehatan, pentingnya gizi saat kehamilan, dan pemenuhan gizi anak menjadi faktor yang penting. Selain minimnya edukasi, kurangnya pemenuhan gizi ini bisa juga terkait dengan status ekonomi keluarga.

 

2)        Kurangnya gizi saat bayi lahir hingga usia 2 tahun

 Kurangnya edukasi ibu terkait pengetahuan tentang kehamilan dan anak, mengakibatkan kurangnya pemenuhan gizi anak pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

1.000 HPK artinya dimulai sejak janin tumbuh hingga anak lahir dan menginjak usia 2 tahun.  Dilansir dari data TNP2TK, 60 persen anak usia 0-6 bulan tidak mendapat ASI secara eksklusif. Dan 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima Makanan Pendamping ASI (MPASI). Padahal bayi butuh nutrisi yang cukup untuk bisa tumbuh optimal.

 

3)        Kondisi kesehatan ibu yang buruk

Selain kurangnya asupan nutrisi pada ibu hamil, kondisi kesehatan juga bisa meningkatkan potensi stunting. Dilansir WHO, ibu yang mengalami malaria, HIV/AIDS, dan cacingan berpotensi meningkatkan risiko stunting pada anak. Begitu pula dengan ibu yang mengalami hipertensi.

Selain itu, wanita yang hamil pada usia remaja juga berisiko. Sebab akan terjadi semacam persaingan perebutan nutrisi antara tubuh ibu yang masih dalam tahap pertumbuhan dan juga si jabang bayi.

 

4)         Sanitasi dan kebersihan lingkungan yang buruk

 Kondisi sanitasi, kebersihan lingkungan, dan akses air bersih yang buruk bisa meningkatkan potensi terjadinya infeksi penyakit. Seperti diare dan malaria. Kebersihan yang minim ini menyebabkan tubuh harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk melawan sumber penyakit. Penyakit infeksi yang disebabkan hygiene atau buruknya sanitasi bisa mengganggu penyerapan nutrisi pada sistem pencernaan.

 

5)         Akses air bersih

 Kebutuhan akan air bersih juga bisa mencegah anak dan keluarga dari risiko infeksi penyakit. Setiap keluarga harus memiliki sumber air yang layak. Sumber air layak artinya tersedianya air minum, hydrant umum, terminal air, penampang air hujan, mata air/sumur terlindung, atau sumur bor/pompa, yang jaraknya 10 meter dari pembuangan kotoran atau limbah.

 

6)        Infeksi penyakit

 Dilansir WHO, salah satu penyebab stunting adalah infeksi penyakit. Penyakit seperti diare, penyakit pernapasan seperti pneumonia, dan cacingan, bisa memengaruhi pertumbuhan anak.

Data menyebut, seorang anak yang mengalami diare lebih dari 5 kali sebelum menginjak usia 2 tahun telah menjadi penyebab 25 persen anak yang mengalami diare di dunia. Infeksi penyakit dan paparan berlebih pada bakteri ini juga menyebabkan dampak medis lain pada anak. Mulai dari inflamasi, kerusakan pada sistem pencernaan, dan semakin berkurangnya kemampuan untuk menyerap nutrisi.

 

E.     Solusi pencegahan stunting di Indonesia

 WHO menyebut bahwa stunting tidak dapat disembuhkan, namun bisa kita cegah. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan sebagai upaya pencegahan stunting.

 

1)        Kesehatan ibu yang baik

Untuk melahirkan bayi yang sehat, maka seorang ibu harus memastikan kondisi kesehatannya optimal pula.  Sebab ada siklus atau intergenerational cycle yang menjadi penyebab stunting terus terjadi dari generasi ke generasi. Terutama lebih berisiko pada wanita yang memiliki masalah kesehatan berikut:

a)         Kurang gizi saat lahir

b)         Mengalami stunting saat usia anak

c)         Hamil saat usia remaja

d)         Bekerja berlebihan saat hamil

e)         Akan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah

f)          Dan tak mampu berikan ASI secara optimal.

 

Maka dari itu jika kamu para calon ibu yang sudah berkeinginan memiliki keturunan, mulailah untuk jaga kesehatan diri sejak sekarang dan edukasi diri dengan baik.

 

2)        Memenuhi asupan gizi ibu hamil

Pemenuhan gizi anak harus dimulai sejak janin. Oleh karena itu ibu harus memastikan dirinya mengonsumsi makanan bernutrisi seimbang. Asupan gizi yang kurang bisa sebabkan pertumbuhan janin yang tidak maksimal. Pertumbuhan janin yang tak maksimal bisa tingkatkan risiko keguguran. Dilansir Kemenkes RI, ibu hamil pada umumnya kekurangan energi dan protein. Maka dari itu disarankan untuk mengonsumsi makanan yang tinggi TKPM alias tinggi kalori, protein, dan mikronutrien.  Jangan lupa juga untuk melakukan cek kesehatan dan cek kandungan secara rutin ke dokter, bidan, atau petugas medis lain yang kompeten.

 

 

 

 

3)         Pentingnya ASI eksklusif untuk pencegahan stunting

  Saat bayi lahir, sangat disarankan untuk melakukan IMD atau Inisiasi Menyusui Dini. Di mana dalam rentang 1 jam pasca lahir, tempatkan bayi pada dada sang ibu dengan posisi telungkup.

Berikan bayi ASI eksklusif, sebab pada tahap ini susu ibu mengandung banyak kolostrum yang sangat baik bagi pertumbuhan dan sistem imunitas bayi ke depannya. WHO menyarankan ibu memberikan ASI eksklusif mulai saat bayi lahir hingga bayi berusia 6 bulan. Lalu meneruskannya hingga sang anak berusia 2 tahun. Tahukah Moms, dilansir WHO ada dampak buruk pada bayi di bawah 6 bulan yang tidak diberi ASI eksklusif. Mereka 15 kali lebih berpotensi meninggal akibat pneumonia, dan 11 kali berisiko meninggal akibat diare.

 

4)        Memberikan makanan pendamping air susu ibu (MPASI)

  Setelah bayi melewati usia 6 bulan, disarankan untuk mulai memberikan makanan pendamping ASI. WHO menyarankan bayi berusia 6-23 bulan mengonsumsi sekurangnya 4 dari 7 kelompok jenis makanan. Mulai dari serealia/umbi-umbian, kacang-kacangan, produk olahan susu, telur, sumber protein lainnya, sayur dan buah kaya vitamin A, sayur dan buah lainnya. Pemberian MPASI juga tak boleh sembarangan, harus sesuai dengan ketentuan Minimum Meal Frequency (MMF) yang disarankan WHO. Berikut uraiannya:

 

Frekuensi pemberian MPASI pada bayi yang masih diberi ASI:

a)    Usia 6-8 bulan : 2 kali sehari atau lebih

b)    Usia 9-23 bulan : 3 kali sehari atau lebih

Frekuensi pemberian MPASI pada bayi yang sudah tidak diberi ASI:

a)       Usia 6-23 bulan : 4 kali sehari atau lebih

5)         Rajin ke posyandu

       Saat bayi masih dalam tahap 1.000 hari pertama kehidupan, jangan lupa untuk rutin mengunjungi Posyandu maupun fasilitas medis lainnya. Lakukan pengecekan kesehatan dan pertumbuhan bayi secara rutin. Jangan lupa konsultasikan setiap perkembangan anak dengan petugas medis untuk mencegah stunting. Selain itu, jangan lupa untuk memberikan imunisasi secara lengkap agar anak lebih kebal terhadap berbagai infeksi penyakit.

 

 

6)         Menjaga kebersihan sanitasi dan lingkungan

       Saat ibu hamil lalu melahirkan dan menyusui, pastikan untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi. Lakukan mulai dari kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun. Saat anak lahir, pastikan untuk selalu menjaga kebersihan segala peralatan sang bayi. Mulai dari pakaian, perlengkapan mandi, peralatan makan, dan lain-lain. Langkah menjaga kebersihan ini bisa menghindari ibu dan bayi dari potensi terkena berbagai penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti diare.

 

7)         Jaga kebersihan makanan

Selain kebersihan lingkungan dan sanitasi, jangan lupa untuk jaga kebersihan makanan yang ibu dan bayi konsumsi. Sebab makanan yang tidak terjaga kebersihannya bisa terpapar mycotoxins. Mycotoxins adalah zat kimia berbahaya yang dihasilkan oleh jamur yang ada pada makanan. Zat ini bisa sebabkan infeksi penyakit yang mengganggu pertumbuhan. Selain itu pastikan makanan disimpan pada tempat tertutup, dalam wadah yang bersih, dan suhu yang baik. Sebab jika tidak, bakteri bisa tumbuh dan berkembang. Jika itu terjadi, risiko anak terkena infeksi penyakit meningkat. Hal ini bisa berpengaruh pada pertumbuhan anak yang tidak bisa berkembang optimal.

 

 

Tahapan Pembuatan Gula Pasir Dengan Tebu

7:40:00 PM Add Comment

 

Pembuatan Gula dari Tebu 

Tebu adalah tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula. Tebu ini termasuk jenis rumput-rumputan. Tanaman tebu dapat tumbuh hingga 3 meter di kawasan yang mendukung. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1 tahun. Tebu dapat dipanen dengan cara manual atau menggunakan mesin-mesin pemotong tebu. Daun kemudian dipisahkan dari batang tebu, kemudian baru dibawa kepabrik untuk diproses menjadi gula.

Tahapan-tahapan dalam proses pembuatan gula dimulai dari :

1.      Penanaman tebu,

2.      Proses ektrasi,

3.      Pembersihan kotoran,

4.      Penguapan,

5.      Kritalisasi,

6.      Afinasi,

7.      Karbonasi,

8.      Penghilangan warna,

9.      Proses pengepakan

10.  Sampai ketangan konsumen.

 

1.      Ekstraksi

Tahap pertama pembuatan gula tebu adalah ekstraksi jus atau sari tebu. Caranya dengan menghancurkan tebu dengan mesin penggiling untuk memisahkan ampas tebu dengan cairannya. Cairan tebu kemudian dipanaskan dengan boiler. Jus yang dihasilkan masih berupa cairan yang kotor: sisa-sisa tanah dari lahan, serat-serat berukuran kecil dan ekstrak dari daun dan kulit tanaman, semuanya bercampur di dalam gula.


2.      Ekstraksi

Jus dari hasil ekstraksi mengandung sekitar 50 % air, 15% gula dan serat residu, dinamakan bagasse, yang mengandung 1 hingga 2% gula. Dan juga kotoran seperti pasir dan batu-batu kecil dari lahan yang disebut sebagai “abu”.

 

 

3.      Pengendapan kotoran dengan kapur (Liming)

Jus tebu dibersihkan dengan menggunakan semacam kapur (slaked lime) yang akan mengendapkan sebanyak mungkin kotoran , kemudian kotoran ini dapat dikirim kembali ke lahan. Proses ini dinamakan liming. Jus hasil ekstraksi dipanaskan sebelum dilakukan liming untuk mengoptimalkan proses penjernihan. Kapur berupa kalsium hidroksida atau Ca(OH)2 dicampurkan ke dalam jus dengan perbandingan yang diinginkan dan jus yang sudah diberi kapur ini kemudian dimasukkan ke dalam tangki pengendap gravitasi: sebuah tangki penjernih (clarifier). Jus mengalir melalui clarifier dengan kelajuan yang rendah sehingga padatan dapat mengendap dan jus yang keluar merupakan jus yang jernih. Kotoran berupa lumpur dari clarifier masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya dilakukan penyaringan dalam penyaring vakum putar (rotasi) dimana jus residu diekstraksi dan lumpur tersebut dapat dibersihkan sebelum dikeluarkan, dan hasilnya berupa cairan yang manis. Jus dan cairan manis ini kemudian dikembalikan ke proses.

 

4.      Penguapan (Evaporasi)

Setelah mengalami proses liming, proses evaporasi dilakukan untuk mengentalkan jus menjadi sirup dengan cara menguapkan air menggunakan uap panas (steam). Terkadang sirup dibersihkan lagi tetapi lebih sering langsung menuju ke tahap pembuatan kristal tanpa adanya pembersihan lagi. Jus yang sudah jernih mungkin hanya mengandung 15% gula tetapi cairan (liquor) gula jenuh (yaitu cairan yang diperlukan dalam proses kristalisasi) memiliki kandungan gula hingga 80%. Evaporasi dalam ‘evaporator majemuk’ (multiple effect evaporator) yang dipanaskan dengan steam merupakan cara yang terbaik untuk bisa mendapatkan kondisi mendekati kejenuhan (saturasi).

 

5.      Pendidihan/ Kristalisasi

Pada tahap akhir pengolahan, sirup ditempatkan ke dalam wadah yang sangat besar untuk dididihkan. Di dalam wadah ini air diuapkan sehingga kondisi untuk pertumbuhan kristal gula tercapai. Pembentukan kristal diawali dengan mencampurkan sejumlah kristal ke dalam sirup. Sekali kristal terbentuk, kristal campur yang dihasilkan dan larutan induk (mother liquor) diputar di dalam alat sentrifugasi untuk memisahkan keduanya, bisa diumpamakan seperti pada proses mencuci dengan menggunakan pengering berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum disimpan. Larutan induk hasil pemisahan dengan sentrifugasi masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya kristalisasi diulang beberapa kali. Sayangnya, materi-materi non gula yang ada di dalamnya dapat menghambat kristalisasi. Hal ini terutama terjadi karena keberadaan gula-gula lain seperti glukosa dan fruktosa yang merupakan hasil pecahan sukrosa. Olah karena itu, tahapan-tahapan berikutnya menjadi semakin sulit, sampai kemudian sampai pada suatu tahap di mana kristalisasi tidak mungkin lagi dilanjutkan. Sebagai tambahan, karena gula dalam jus tidak dapat diekstrak semuanya, maka terbuatlah produk samping (byproduct) yang manis: molasses. Produk ini biasanya diolah lebih lanjut menjadi pakan ternak atau ke industri penyulingan untuk dibuat alkohol (etanol) . Belakangan ini molases dari tebu di olah menjadi bahan energi alternatif dengan meningkatkan kandungan etanol sampai 99,5%.

 

6.      Penyimpanan

Gula kasar yang dihasilkan akan membentuk gunungan coklat lengket selama penyimpanan dan terlihat lebih menyerupai gula coklat lunak yang sering dijumpai di dapur-dapur rumah tangga. Gula ini sebenarnya sudah dapat digunakan, tetapi karena kotor dalam penyimpanan dan memiliki rasa yang berbeda maka gula ini biasanya tidak diinginkan orang. Oleh karena itu gula kasar biasanya dimurnikan lebih lanjut ketika sampai di negara pengguna.

 

7.      Afinasi (Affination)

Tahap pertama pemurnian gula yang masih kasar adalah pelunakan dan pembersihan lapisan cairan induk yang melapisi permukaan kristal dengan proses yang dinamakan dengan “afinasi”. Gula kasar dicampur dengan sirup kental (konsentrat) hangat dengan kemurnian sedikit lebih tinggi dibandingkan lapisan sirup sehingga tidak akan melarutkan kristal, tetapi hanya sekeliling cairan (coklat). Campuran hasil (‘magma’) di-sentrifugasi untuk memisahkan kristal dari sirup sehingga kotoran dapat dipisahkan dari gula dan dihasilkan kristal yang siap untuk dilarutkan sebelum proses karbonatasi. Cairan yang dihasilkan dari pelarutan kristal yang telah dicuci mengandung berbagai zat warna, partikel-partikel halus, gum dan resin dan substansi bukan gula lainnya. Bahan-bahan ini semua dikeluarkan dari proses.

 

8.       Karbonatasi

Tahap pertama pengolahan cairan (liquor) gula berikutnya bertujuan untuk membersihkan cairan dari berbagai padatan yang menyebabkan cairan gula keruh. Pada tahap ini beberapa komponen warna juga akan ikut hilang. Salah satu dari dua teknik pengolahan umum dinamakan dengan karbonatasi. Karbonatasi dapat diperoleh dengan menambahkan kapur/ lime [kalsium hidroksida, Ca(OH)2] ke dalam cairan dan mengalirkan gelembung gas karbondioksida ke dalam campuran tersebut. Gas karbondioksida ini akan bereaksi dengan lime membentuk partikel-partikel kristal halus berupa kalsium karbonat yang menggabungkan berbagai padatan supaya mudah untuk dipisahkan. Supaya gabungan-gabungan padatan tersebut stabil, perlu dilakukan pengawasan yang ketat terhadap kondisi-kondisi reaksi. Gumpalan-gumpalan yang terbentuk tersebut akan mengumpulkan sebanyak mungkin materi-materi non gula, sehingga dengan menyaring kapur keluar maka substansi-substansi non gula ini dapat juga ikut dikeluarkan. Setelah proses ini dilakukan, cairan gula siap untuk proses selanjutnya berupa penghilangan warna. Selain karbonatasi, teknik yang lain berupa fosfatasi. Secara kimiawi teknik ini sama dengan karbonatasi tetapi yang terjadi adalah pembentukan fosfat dan bukan karbonat. Fosfatasi merupakan proses yang sedikit lebih kompleks, dan dapat dicapai dengan menambahkan asam fosfat ke cairan setelah liming seperti yang sudah dijelaskan di atas.

 

9.      Penghilangan warna

Ada dua metoda umum untuk menghilangkan warna dari sirup gula, keduanya mengandalkan pada teknik penyerapan melalui pemompaan cairan melalui kolom-kolom medium. Salah satunya dengan menggunakan karbon teraktivasi granular [granular activated carbon, GAC] yang mampu menghilangkan hampir seluruh zat warna. GAC merupakan cara modern setingkat “bone char”, sebuah granula karbon yang terbuat dari tulang-tulang hewan. Karbon pada saat ini terbuat dari pengolahan karbon mineral yang diolah secara khusus untuk menghasilkan granula yang tidak hanya sangat aktif tetapi juga sangat kuat. Karbon dibuat dalam sebuah oven panas dimana warna akan terbakar keluar dari karbon. Cara yang lain adalah dengan menggunakan resin penukar ion yang menghilangkan lebih sedikit warna daripada GAC tetapi juga menghilangkan beberapa garam yang ada. Resin dibuat secara kimiawi yang meningkatkan jumlah cairan yang tidak diharapkan. Cairan jernih dan hampir tak berwarna ini selanjutnya siap untuk dikristalisasi kecuali jika jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan konsumsi energi optimum di dalam pemurnian. Oleh karenanya cairan tersebut diuapkan sebelum diolah di panci kristalisasi.

 

10.  Pendidihan

Sejumlah air diuapkan di dalam panci sampai pada keadaan yang tepat untuk tumbuhnya kristal gula. Sejumlah bubuk gula ditambahkan ke dalam cairan untuk mengawali/memicu pembentukan kristal. Ketika kristal sudah tumbuh campuran dari kristal-kristal dan cairan induk yang dihasilkan diputar dalam sentrifugasi untuk memisahkan keduanya. Proses ini dapat diumpamakan dengan tahap pengeringan pakaian dalam mesin cuci yang berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum dikemas dan/ atau disimpan siap untuk didistribusikan.




Unggulan Post

Warna Feses Bisa Menunjukkan Kondisi Kesehatan Anda.

Karikatur Fese dalam usus manusia  Feses merupakan hasil kotoran dari proses pencernaan. Kotoran ini terdiri dari sisa-sisa makanan yang tid...