Tambah Regimen Baru Vaksin Booster, Total Ada 6
Jenis Vaksin COVID-19 yang Dipakai di Indonesia. Pemerintah telah resmi
menambahkan regimen vaksin booster, yakni vaksin Sinopharm. Dengan demikian ada
6 jenis regimen vaksin booster yang digunakan di Indonesia.
Keenam regimen tersebu antara lain vaksin Sinovac,
AstraZeneca, Pfizer, Moderna, Janssen (J&J), dan vaksin Sinopharm.
Pelaksanaan vaksinasi booster dapat dilaksanakan di seluruh kabupaten/kota bagi
masyarakat umum.
Pemberian dosis booster dilakukan melalui dua
mekanisme antara lain Homolog, yaitu pemberian dosis booster dengan menggunakan
jenis vaksin yang sama dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah didapat
sebelumnya. Sementara Heterolog, yaitu pemberian dosis booster dengan
menggunakan jenis vaksin yang berbeda dengan vaksin primer dosis lengkap yang
telah didapat sebelumnya.
Regimen dosis booster yang dapat diberikan yaitu
jika vaksin primer Sinovac, maka vaksin booster bisa menggunakan 3 jenis vaksin
antara lain AstraZeneca separuh dosis (0,25 ml), Pfizer separuh dosis (0,15
ml), dan Moderna dosis penuh (0,5 ml).
Vaksin primernya AstraZeneca maka boosternya bisa
menggunakan vaksin Moderna separuh dosis (0,25 ml), vaksin Pfizer separuh dosis
(0,15 ml), dan vaksin AstraZeneca dosis penuh (0,5 ml). Vaksin primer Pfizer,
untuk booster bisa menggunakan vaksin Pfizer dosis penuh (0,3 ml), Moderna
separuh dosis (0,25 ml), dan AstraZeneca dosis penuh (0,5 ml).
Vaksin primer Moderna, booster dengan menggunakan
vaksin yang sama separuh dosis (0,25 ml). Kemudian vaksin primer Janssen
(J&J), maka untuk booster dengan menggunakan Moderna separuh dosis (0,25
ml).
Selanjutnya vaksin primer Sinopharm booster nya
menggunakan vaksin Sinopharm juga dengan dosis penuh (0,5 ml).
Juru
Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmidzi
mengatakan vaksin booster yang digunakan berdasarkan ketersediaan di setiap
daera.
"Vaksin yang digunakan untuk dosis booster ini
disesuaikan dengan ketersediaan vaksin di masing-masing daerah dengan
mengutamakan vaksin yang memiliki masa expired terdekat. Di samping itu,
vaksinasi dosis primer tetap harus dikejar agar dapat mencapai target,"
katanya di Jakarta, Senin (28/2).
Tata cara pemberian, tempat pelaksanaan, alur
pelaksanaan dan pencatatan vaksinasi COVID-19 tetap mengacu pada Surat Edaran
Nomor HK.02.02/II/252/2022 tentang Vaksinasi COVID-19 Dosis Lanjutan (Booster).
Sumber
:
Kepala
Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati, MKM Kemenkes
Terkait
masalah limbah PT. Freeport yang sejak tahun 1974 sampai dengan tahun 2018
diketahui mengalirkan tailing melalui Sungai Aghawagon dan Sungai Ajkwa serta
menempatkannya di Modified Ajkwa Deposition Area (ModADA) seluas 230 km persegi
sudah sesuai aturan yang diterbitkan saat itu.
Senjata biologi (biological weapon) adalah senjata yang
menggunakan patogen (bakteri, virus, atau organisme penghasil penyakit lainnya)
sebagai alat untuk membunuh, melukai, atau melumpuhkan musuh. Dalam pengertian
yang lebih luas, senjata biologi tidak hanya berupa organisme patogen, tetapi
juga toksin berbahaya yang dihasilkan oleh organisme tertentu. Dalam
kenyataanya, senjata biologi tidak hanya menyerang manusia, tetapi juga hewan
dan tanaman.
Pembuatan dan penyimpanan senjata
biologi telah dilarang oleh Konvensi Senjata Biologi 1972 yang ditandatangani
oleh lebih dari 100 negara. Alasan pelarangan ini adalah untuk menghindari efek
yang dihasilkan senjata biologi, yang dapat membunuh jutaan manusia, dan
menghancurkan sektor ekonomi dan sosial. Namun, Konvensi Senjata Biologi hanya
melarang pembuatan dan penyimpanan senjata biologi, tetapi tidak melarang
pemakaiannya.
Karena kebencian dan keserakahan manusia maka teknologi dan strategi berperang mereka menggunakan senjata biologis. Senjata biologis adalah senjata yang memanfaatkan bakteri,
virus atau organisme yang mampu menghasilkan penyakit, dengan tujuan untuk
melumpuhkan, melukai, bahkan membunuh musuh.
1.Anthrax
Bacillus Anthracis, bakteri penyebab
Anthrax, merupakan salah satu agen bio paling mematikan dan dimanfaatkan untuk
senjata biologi. Anthrax diperkirakan telah digunakan sebagai senjata biologi
selama sekitar satu abad lalu. Tak hanya mematikan, Anthrax bisa dibilang
adalah salah satu senjata yang sangat mengerikan serta fleksibel karena tak
terlihat, menular, serta tidak berbau. Bahkan, Anthrax dalam wujud bubuk pernah
dikirim dengan sengaja lewat sistem pos di AS pada 2001. Dari 22 orang yang
terinfeksi, tujuh orang merupakan pekerja pos, dan total lima orang meninggal
akibat serangan itu. Korban Anthrax dapat mengalami gangguan kulit terasa
melepuh dan gatal, pembengkakan di sekitar kulit yang melepuh, termasuk rasa
tidak nyaman di dada, demam, menggigil, pusing, batuk, mual, muntah, sakit
perut, sakit kepala, kelelahan ekstrem, dan nyeri pada seluruh tubuh.
2.Botulisme
Botulisme merupakan salah satu racun
paling mematikan di dunia. Racun Botulisme menjadi salah satu senjata biologis
yang relatif mudah diproduksi, karena bakteri dari racun ini bisa didapatkan
secara alami di tanah hutan, sedimen dasar danau dan sungai, serta saluran usus
dari beberapa ikan maupun hewan. Hanya dengan 1 gram racun Botulisme bisa
menewaskan 1 juta orang yang menghirupnya. Botulisme pernah digunakan kelompok
Jepang untuk menginfeksi tahanan perang mereka. Gejala Botulisme bisa sangat
parah. Otot-otot di wajah akan menjadi lumpuh, dan jika tidak ditangani,
kelumpuhan itu dapat menyebar ke seluruh tubuh bahkan mematikan otot-otot yang
digunakan untuk bernapas.
3.Variola (cacar)
Dikenal juga dengan sebutan "wabah
merah", Variola atau cacar adalah penyakit yang sangat menular yang
menyebabkan demam tinggi, sakit kepala dan tubuh, ruam yang parah, dan bintil
yang menutupi sebagian besar tubuh. Ada dua laboratorium di dunia yang memiliki
akses langsung ke penyakit tersebut untuk tujuan penelitian, Centers for
Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, dan Center for Virology
and Biotechnology Research Rusia. WHO khawatir suatu negara atau organisasi
teroris dapat menggunakan penyakit tersebut sebagai senjata biologis di masa
depan. Pada tahun 1980, pemerintah Uni Soviet mengembangkan virus cacar dalam
jumlah besar yang disimpan dalam tangki berpendingin untuk digunakan sebagai
agen senjata biologis. Ancaman penggunaan cacar sebagai senjata biologis menurun
ketika WHO meluncurkan program imunisasi global yang sukses melawan cacar tahun
1967. Meski demikian, vaksinasi tidak menghasilkan kekebalan seumur hidup dari
penyakit tersebut.
4.Q Fever
Q Fever adalah penyakit yang disebabkan
oleh bakteri Coxiella burnetii. Bakteri ini muncul secara alami dan menginfeksi
hewan seperti domba, sapi, dan kambing, menyebabkan produk sampingannya (susu,
feses, dan bahkan plasenta) terkontaminasi. Kebanyakan orang yang menelan
Coxiella burnetii tidak menunjukkan gejala, tetapi gejalanya biasanya mirip
flu. Meski pasien terinfeksi Fever Q tidak terlalu menular, AS dan Uni Soviet
mengembangkan versi senjata dari bakteri ini dalam jumlah besar. Varietas yang
dipersenjatai dibuat sangat mudah menular, dan percobaan pada manusia terbukti
sangat berhasil karena semua orang yang secara sukarela terinfeksi penyakit
tersebut memperlihatkan gejala. Pengujian Fever Q berlangsung selama dua dekade
di AS. Pada tahun 2006, CDC AS membatasi penelitian yang dilakukan di fasilitas
A&M Texas setelah ditemukan tiga peneliti tertular penyakit tersebut dan
tidak melaporkannya ke CDC sesuai yang ditentukan oleh hukum. Adapun informasi
tersebut diperoleh dari pengawas biosafety melalui Freedom of Information Act.
Untuk diketahui, varian Fever Q yang dipersenjatai dapat diobati dengan
antibiotik.
5.Tularemia
Bakteri Francisella tularensis penyebab
Tularemia atau demam kelinci, memiliki kemampuan menginfeksi yang ekstrem,
mudah menyebar, hingga bisa menyebabkan kematian. Orang yang terkena Francisella
tularensis mengalami gejala ulkus kulit, demam, batuk, muntah, dan diare. Dr.
Kenneth Alibek, mantan ilmuwan yang terlibat dalam program senjata biologis Uni
Soviet, mengungkapkan penggunaan tularensis oleh tentara Uni Soviet melawan
pasukan Jerman dalam pertempuran Stalingrad selama Perang Dunia II. Bakteri
yang diklasifikasikan sebagai agen Kategori A itu telah dipelajari oleh unit
penelitian perang Jepang dan beberapa kekuatan militer negara-negara Barat
untuk keperluan militer.
6.Bunyavirus
Keluarga virus Bunyaviridae ini mencakup
tiga virus: Nairovirus, Phlebovirus, dan Hantavirus. Demam berdarah Korea yang
disebabkan oleh Hantavirus pecah selama Perang Korea ketika diperkirakan tiga
ribu tentara Amerika Serikat dan Korea terinfeksi penyakit tersebut. Namun,
bukti penggunaan langsungnya sebagai senjata biologis masih belum ditemukan. Bunyavirus
menyebabkan infeksi pada manusia seperti Hanta Pulmonary Syndrome (HPS), demam
Rift Valley, dan demam berdarah Krimea-Kongo. Infeksinya ditularkan oleh
artropoda dan hewan pengerat, serta terkadang dapat menginfeksi manusia juga.
Virus Hanta penyebab HPS menyebabkan tingkat kematian hingga 50%.
7.Yersinia pestis
Bakteri satu ini bisa menjadi senjata
biologis yang dapat menyebabkan wabah pneumonia. Gejala-gejala awal yang
ditimbulkan adalah demam, radang paru-paru yang dapat sebabkan gagal napas
hingga berujung kematian bila tidak ditangani dengan baik. Wabah semacam ini
telah digunakan sebagai senjata oleh tentara Jepang saat Perang Dunia II.
Yersinia pestis sengaja dijatuhkan di daerah-daerah sekitar China dan
Manchuria.
8.Virus Marburg
Demam Berdarah Marburg (Marburg HF)
disebabkan oleh virus Marburg dari famili filovirus, yang juga termasuk virus
Ebola. Virus Marburg juga merupakan agen perang biologis Kategori A yang
diidentifikasi oleh sistem klasifikasi CDC dan dibawa di tubuh kelelawar buah
Afrika. Virusnya dapat diisolasi dan diproduksi sebagai senjata biologis. Uni
Soviet melakukan eksperimen dengan virus Marburg dalam bentuk aerosol untuk
mengubahnya menjadi senjata biologis operasional strategis. Para ilmuwan Soviet
dilaporkan lebih memilih Marburg daripada Coxiella burnetii (demam Q) karena
Marburg memiliki tingkat kematian kasus yang tinggi hingga 90%.
9.Aflatoxin
Aflatoxin adalah sejumlah metabolit
berbahaya yang terkait secara struktural yang dikembangkan oleh strain jamur
tertentu. Metabolit ini menyebabkan kematian sel atau organ, hingga penyakit
hati sirosis yang mengakibatkan kegagalan fungsi hati dan kanker. Komisi Khusus
PBB (UNSCOM), pada tahun 1995 menemukan produksi Aflatoxin dan beragam
pengerahan amunisi di Irak, yang dihancurkan setelah Perang Teluk. Menurut
laporan Army Technology, metabolitnya memiliki toksisitas yang sangat rendah,
sehingga diperlukan dalam jumlah besar untuk disebarkan di medan perang untuk
menghasilkan dampak yang mematikan.
10.Ebola
Virus Ebola pertama kali ditemukan pada
tahun 1976 di Republik Kongo dan ditransmisikan dari hewan liar ke manusia.
Ebola berpotensi dijadikan senjata biologis yang dapat menjadi ancaman besar
untuk manusia karena dapat sebabkan kematian. Ada dugaan Ebola diproduksi
sebagai senjata oleh Uni Soviet antara tahun 1986 hingga 1990. Namun sejauh
ini, dugaan tersebut masih belum bisa dibuktikan.
Ular piton atau yang juga biasa disebut ular
sanca merupakan salah satu ular dari famili Pythonida. Salah satu jenis dari
ular ini memiliki nama latin Malayopython reticulatus, yaitu sanca kembang.
Sebaran ular sanca meliputi Afrika, Australia, Amerika, Asia, termasuk
Indonesia. Piton merupakan ular tidak berbisa dengan panjang antara 1,5 meter
hingga 6,5 meter, sedangkan untuk beratnya 1 kg hingga 75 kg. Ular piton
umumnya ditemukan di padang rumput, hutan tropis ataupun perairan air tawar. Pada
beberapa kasus, ular piton diketahui memangsa manusia meski sebenarnya mangsa
utama mereka bukanlah manusia. Sebab ular sanca umumnya memangsa burung, tikus,
babi hutan, rusa ataupun monyet. Sedangkan jika hidup di sekitar pemukiman
manusia, maka mereka akan memangsa anjing, kucing, ayam serta hewan ternak
lainnya. Gaya berburu dari ular piton yaitu dengan menangkap mangsanya kemudian
melilit kuat mangsanya hingga kehabisan nafas. Ular piton juga kerap menyerang
mangsanya dengan cara melilit hingga tulang dada serta panggul remuk sehingga
ini memudahkan ular piton untuk menelannya.
1.Taksonomi
Secara umum,
ular sanca adalah anggota dari famili Pythonidae dengan klasifikasi sebagai
berikut:
Kerajaan
Filum
Kelas
Ordo
Upaordo
Infraordo
Famili
Animalia
Chordata
Reptilia
Squamata
Serpentes
Alethinophidia
Pythonidae
1.
2.Habitat & Sebaran
Tempat tinggal
ular piton adalah kawasan hutan hujan tropis, sungai, hingga padang rumput.
Reptil melata ini tersebar meliputi Afrika Sub-Sahara, Nepal, India, Sri Lanka,
Myanmar, Tiongkok selatan, Asia Tenggara, serta mulai Filipina ke selatan
hingga Indonesia, Papua Nugini, dan Australia. Di Amerika Serikat, terdapat
salah satu spesies sanca, yaitu Python bivittatus atau sanca bodo yang menjadi
spesies invasif sejak tahun 1990an.
3.Ciri & Karakteristik
Meski piton dikenal
sebagai ular ganas, namun ular ternyata memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a)piton
adalah ulat tidak berbisa
b)piton
tidak mampu melihat sekelilingnya secara jelas
c)piton
tidak bisa mendengar atau tuli
d)piton
mampu mendeteksi suhu disekitarnya
e)piton
sangat ahli mendeteksi gerakan
f)piton
akan memangsa sesuai dengan kebutuhan kalorinya
g)Ular
sanca mempunyai gigi tajam yang melengkung ke belakang,
h)jumlah
empat baris pada rahang atas,
i)serta
dua di rahang bawah.
j)Gigi
tersebut digunakan untuk menangkap mangsa kemudian melilitnya dengan sangat
kuat hingga jantung mangsanya berhenti.
4.Jenis Ular Piton
Menurut Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI), ada 13 jenis ular piton yang hidup di Indonesia,
antara lain:
1)Ular Sanca Batik
Ular
piton jenis sanca batik memiliki pola sisik menyerupai batik. Ular ini tersebar
di seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ular sanca batik adalah salah
satu reptil terpanjang di dunia dengan panjang mencapai 8 meter.
2)Ular Sanca Bodo / Phyton Burma
Ular
piton jenis ini keberadaannya cukup langka karena sulit ditemukan di hutan yang
menjadi habitat aslinya. Oleh karena kelangkaannya, seringkali membuat ular ini
diperdagangkan.
3)Ular Sanca Darah
Ular
sanca darah dapat ditemukan di kawasan hutan Sumatera. Karakteristik dari ular
ini adalah bertubuh yang pendek dengan panjang maksimal sekitar 3 meter. Ular
ini cenderung gemuk, warna tubuhnya kemerahan menyerupai darah sehingga disebut
sebagai ular sanca darah.
4)Ular Sanca Bulan
Spesies
piton ini hidup di hutan pegunungan Papua, tepatnya pada ketinggian lebih dari
1.750 meter di atas permukaan laut. Warna ular piton sanca bulan cenderung
kehitaman dengan panjang tubuh dewasa sekitar 3 meter. Karena termasuk piton
pendek, maka mangsa utamanya adalah reptil kecil.
5)Ular Sanca Hijau
Jenis
piton hijau mempunya sisik berwarna hijau terang. Ukuran tubuhnya tidak terlalu
panjang dan seringkali ditemukan di pepohonan. Warnanya yang hijau terkadang
menyamarkan diri dari dedaunan. Habitat sanca hijau adalah kawasan hutan di
Papua.
6)Ular Piton Halmahera
Ular
piton jenis ini mirip dengan sanca permata, namun hanya tersebar di wilayah
Halmahera meliputi Ternate, Tidore hingga Tanibar.
7)Ular Piton Maluku
Karakteristik
utama dari ular piton maluku adalah warna tubuhnya yang cokelat terang. Sebaran
utamanya berada di kawasan Maluku dan sekitarnya.
8)Ular Sanca Pelangi
Tidak
seperti namanya, sebeanrnya sanca pelangi memiliki warna cokelat, tetapi akan
menyerupai pelangi bila terkena sinar matahari. Ular piton jenis ini aktif
hanya pada malam hari, sedangkan pada siang hari biasanya ular ini akan
bersembunyi di vegetasi atau di sekitar sungai.
9)Ular Sanca Mata Putih
Seperti
namanya, ular piton mata putih mempunyai mata berwarna putih. Panjang tubuhnya
hanya sekitar 1,5 meter. Ular ini seringkali disebut sebagai ular piton
terkecil di dunia. Mangsa piton jenis ini adalah tikus dan hewan lain berukuran
sedang. Sebaran utama sanca putih berada di daerah Papua.
10)Ular Sanca Cokelat
Piton
jenis ini memiliki kulit sisik berwarna cokelat yang tampak mengkilap bila
terkena cahaya. Panjang ular sanca cokelat tidak lebih dari 2,5 meter. Habitat
ular piton cokelat adalah pedalaman hutan Papua.
11)Ular Darah Hitam
Ular
piton darah hitam tersebar di kawasan Sumatera. Ular ini memiliki ciri tubuh
pendek. Warna tubuhnya cenderung gelap dan menjadi salah satu incaran pedagang
kulit hewan. Alasannya adalah karena ular ini mempunyai kulit dengan pola
menarik untuk bahan dasar tas, sepatu dan aksesoris lainnya.
12)Ular Piton Puraca
Piton
puraca memiliki warna kulit dominan cokelat dengan ukuran panjang sekitar 3
meter. Ular ini seringkali disebut sebagai ripung atau lipung.
13)Ular Sanca Permata
Sanca
permata dapat dijumpai di hutan-hutan di Papua. Karakteristik utama dari ular
ini adalah warna kulitnya yang terang menyerupai permata. Ular ini menjadi ular
sanca terpanjang yang pernah ditemukan di Indonesia, yakni sepanjang 8,5 meter.
Ukuran tersebut terbilang langka karena biasanya ukurannya hanya mencapai 5
meter.
Salah
satu penelitian mengenai obat COVID-19 menunjukkan hasil menggembirakan. Glenmark
Pharmaceuticals, perusahaan farmasi global yang menggandeng Sanotize Research
& Development Corp, mengumumkan kabar gembira dari uji klinis fase 3 Nitric
Oxide Nasal Spray (NONS) atau yang dikenal di Indonesia dengan nama Enovid Nose
Sanitizer. Seperti dilansir dari Antara Kamis 10 Februari 2022, hasil baik ini
berdasar pengujian Enovid Nose Sanitizer yang dilakukan pada pasien dewasa COVID-19
di 20 lokasi di India. Fase ke-3 ini mengevaluasi kemanjuran dan keamanan
Enovid Nose Sanitizer dibandingkan semprotan hidung saline pada pasien dewasa.
Percobaan
juga menganalisis pasien dengan risiko peningkatan gejala- pasien yang tidak
divaksinasi, pasien dalam kelompok usia menengah dan lebih tua, dan pasien
dengan penyakit penyerta atau komorbid. Enovid Nose Sanitizer yang di India diberi
nama Fabispray, ternyata menghasilkan "fresh nitric oxide" saat
disemprotkan ke hidung, dirancang untuk membunuh virus COVID-19 di saluran
pernapasan atas. Nitric Oxide Nasal Spray (NONS) ketika disemprotkan di atas
mukosa hidung bertindak sebagai penghalang dan pembunuh virus, pencegah
inkubasi dan penyebaran virus ke paru-paru.
Hasilnya,
jangka waktu penyembuhan COVID-19 untuk pasien yang diberikan Enovid rata-rata
adalah empat hari dibandingkan dengan 8 hari pada kelompok plasebo (tidak
diberikan Enovid). Penggunaan Enovid aman dan ditoleransi dengan baik oleh
pasien. Tidak ada pasien yang mengalami efek samping sedang, berat, serius atau
kematian dalam penelitian ini. Dr. Monika Tandon, Wakil Presiden Senior &
Kepala - Pengembangan Klinis, Glenmark Pharmaceuticals Ltd., dalam siaran pers
pada Kamis mengatakan bahwa hasil dari uji coba Fase 3 ini sangat memberi
dampak yang bagus. "Demonstrasi pengurangan viral load memiliki dampak
yang sangat membantu. Dalam skenario ini, dengan varian baru yang muncul
menunjukkan transmisibilitas tinggi, Enovid memberikan opsi yang berguna dalam
perjuangan India melawan COVID-19," katanya.
Sementara
itu, Dr. Gilly Regev selaku Co-Founder dan CEO Sanotize mengatakan hasil uji
klinis selanjutnya memperkuat kemanjuran produk seperti yang ditunjukkan oleh
uji coba Fase 2 di Inggris - dengan mitra globalnya, Glenmark, untuk melawan
COVID-19.
Varian
Baru Covid-19(OMICRON)
Ahli
virus dari Universitas Udhayana, Prof I Gusti Ngurah Kadek Mahardika mengatakan
sejauh ini belum ada data klinis yang menunjukkan varian baru ini membuat
gejala berat pada pasien. Bagaimanapun, kemungkinan varian baru "lebih
ganas dan kurang ganas" terhadap tubuh manusia. "Potensinya dua,
yaitu lebih ganas dan kurang ganas. Jadi perubahan itu selalu dua arah, tak
pernah satu arah," kata Prof I Gusti Ngurah Kadek Mahardika. Untuk
mengetahui hal tersebut diperlukan data lebih lanjut seperti uji tantang pada
hewan coba, termasuk "data klinis dari pasien, baru kita bisa berasosiasi
dengan patologi dan gejala klinis, dan juga keganasan virus". Menteri
Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan sejauh ini dampak dari varian baru
Covid-19 ini belum terkonfirmasi.
Kemenkes
mencatat sembilan negara terkonfirmasi varian Omicron dengan 128 kasus. Di
antaranya sebagian negara bagian Afrika Selatan, Hongkong, Inggris, Italia, dan
Belgia. "Jadi total 13 negara. Sembilan pasti ada. Empat masih kemungkinan
ada," kata Menkes Budi. Untuk negara-negara yang sudah terkonfirmasi ada,
yang paling banyak penerbangan ke Indonesia adalah "Hongkong, Italia,
Inggris, baru Afrika Selatan." "Untuk negara-negara yang kemungkinan
ada, paling besar dari Belanda, Jerman," kata Menkes Budi.
Bercocok tanam merupakan kegiatan yang sejak dahulu telah dilakukan oleh nenek moyang kita. Kegiatan bercocok tanam lebih terkhusus pada sektor pertanian yang dapat menunjang kebutuhan ekonomi masyarakat/petani. Petani telah terbiasa melakukan sistem konvensional dalam bertani, yaitu dengan mengolahan lahan terlebih dahulu, kemudian menunggu hujan turun adalah waktu yang tepat untuk menanam. Tentu saja ini bukan lah kegiatan yang efektif jika dibandingkan antara zaman dahulu dan zaman modern seperti saat ini.
Penemuan
CRISPR/Cas 9 dinobatkan sebagai pemenang Hadiah Nobel Kimia 2020. Teknologi ini
memungkinkan manusia untuk mengganti dan memodifikasi gen yang tidak
diinginkan. Melalui CRISPR/Cas 9, peluang untuk menyembuhkan penyakit-penyakit
genetik yang sebelumnya dianggap tidak bisa diobati telah terbuka.
Berikut adalah tujuh di antaranya,
seperti dilansir dari Labiotech.eu:
1.Kanker
Salah satu potensi yang paling diharapkan dari
penggunaan CRISPR adalah untuk menyembuhkan kanker. Potensi ini sedang
dieksplorasi di Hangzhou Cancer Hospital, China dan telah dicobakan pada 86
pasien. Baca juga: Menang Nobel Kimia 2020, Apa Itu CRISPR Gunting Kode
Kehidupan? Para peneliti China memodifikasi sel imun T pada pasien untuk
membuang gen yang mengkode protein PD-1. Untuk diketahui, ada beberapa jenis
tumor yang bisa mengikat protein PD-1 pada permukaan sel imun dan mematikan
kemampuan sel imun untuk melawan. Selain China, University of Pennsylvania di
Amerika Serikat juga sedang melakukan uji klinis terhadap potensi CRISPR untuk
menyembuhkan kanker. Para peneliti memodifikasi sel imunitas dari pasien untuk
bisa mengenali dan membunuh sel kanker. Hasil temuan awal dari penelitian di
China dan Amerika Serikat mengungkapkan bahwa terapi ini aman digunakan pada
pasien kanker.
2.Kelainan
darah
CRISPR juga berpotensi menangani kelainan
darah, seperti beta-thalasemia dan penyakit sel sabit yang menganggu kemampuan
darah untuk memindahkan oksigen. Sebuah terapi yang dikembangkan oleh CRISPR
Therapeutics dan Vertex Pharmaceuticals memanen sel punca sumsum tulang pasien
dan memodifikasinya untuk memproduksi hemoglobin F atau hemoglobin fetal,
protein pengangkut oksigen dengan kemampuan mengikat oksigen yang lebih
superior. Baca juga: Level Baru Teknologi Rekayasa Genetika Setelah Era CRISPR
CAS-9
3.Kebutaan genetis
Kebanyakan
kebutaan yang bisa diturunkan. disebabkan oleh mutasi spesifik pada gen. Hal
ini membuat kebutaan genetis menjadi target yang baik untuk CRISPR/Cas 9. Editas
Medicine sedang berupaya mengembangkan terapi CRISPR untuk menangani Leber
congenital amaurosis, penyebab paling umum dari kebutaan bawaan pada anak-anak.
Mereka menarget mutasi yang paling umum di balik penyakit ini untuk
mengembalikan sel sensitif cahaya sebelum penderitanya menjadi buta total.
4.AIDS
Ada beberapa cara CRISPR dapat
digunakan untuk melawan AIDS. Salah satunya adalah memotong DNA virus HIV dari
persembunyiannya di dalam DNA sel imun dan membunuhnya dalam keadaan tidak
aktif (dorman). Cara lainnya adalah dengan membuat manusia menjadi kebal HIV.
Dalam sebuah kasus yang sangat kontroversial di China pada 2018, biofisikawan
He Jiankui memodifikasi embrio manusia untuk mengalami mutasi gen yang disebut
CCR5. Mutasi ini mengubah struktur protein pada sel imun yang digunakan oleh
HIV untuk masuk, sehingga tidak bisa lagi diikat oleh HIV. Baca juga: Pelajaran
Penting dari Gagalnya Modifikasi Gen Bayi di China
5.Fibrosis
sistik
Fibrosis
sistik adalah sebuah penyakit genetik yang menyebabkan gangguan pernapasan
parah pada manusia. Meski ada beberapa pengobatan untuk mengurangi gejalanya,
harapan hidup penderita fibrosis sistik hanya sekitar 40 tahun. Menggunakan
CRISPR, para peneliti telah membuktikan kemungkinan dalam memodifikasi dan memperbaiki
mutasi yang paling umum pada gen CFTR yang menyebabkan penyakit ini.
6.Distrofi
otot Duchenne
Distrofi
otot Duchenne (DMD) adalah penyakit bawaan yang menyebabkan kelemahan otot
progresif. Penyakit ini disebabkan oleh mutasi pada gen DMD yang mengkodekan
protein untuk mengontraksi otot. Penelitian pada tikus tealh menunjukkan bahwa
CRISPR dapat digunakan untuk memperbaiki beberapa mutasi genetik di balik
penyakit ini. Baca juga: Kali Pertama, Modifikasi Gen Sembuhkan HIV pada Hewan
Hidup
7.Penyakit
Huntington
Penyakit
Huntington adalah penyakit keturunan yang menyerang sel-sel saraf dan
menyebabkan kerusakan otak. Penyakit ini disebabkan oleh adanya pengulangan
pada urutan DNA tertentu di dalam gen Huntington. Para peneliti berharap untuk
menyembuhkan penyakit ini dengan menggunakan CRISPR. Masalahnya, karena berada
di otak, efek CRISPR yang meleset bisa menyebabkan konsekuensi serius. Untuk
mengurangi risiko ini, para peneliti di Amerika Serikat pun mengembangkan
KamiCas 9, versi lain dari CRISPR/Cas 9 yang bisa menghancurkan dirinya
sendiri. Artinya, setelah Cas9 menjadi aktif untuk waktu yang singkat, KamiCas
9 akan mematikan enzim pembelah DNA selamanya.