Showing posts with label Perkembangan Zaman. Show all posts
Showing posts with label Perkembangan Zaman. Show all posts

KEMENKES RI Sahkan Vaksin Sinopharm C-19 2022

5:18:00 PM Add Comment
Vaksin Omicron


Tambah Regimen Baru Vaksin Booster, Total Ada 6 Jenis Vaksin COVID-19 yang Dipakai di Indonesia. Pemerintah telah resmi menambahkan regimen vaksin booster, yakni vaksin Sinopharm. Dengan demikian ada 6 jenis regimen vaksin booster yang digunakan di Indonesia.

Keenam regimen tersebu antara lain vaksin Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, Moderna, Janssen (J&J), dan vaksin Sinopharm. Pelaksanaan vaksinasi booster dapat dilaksanakan di seluruh kabupaten/kota bagi masyarakat umum.

Pemberian dosis booster dilakukan melalui dua mekanisme antara lain Homolog, yaitu pemberian dosis booster dengan menggunakan jenis vaksin yang sama dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah didapat sebelumnya. Sementara Heterolog, yaitu pemberian dosis booster dengan menggunakan jenis vaksin yang berbeda dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah didapat sebelumnya.

Regimen dosis booster yang dapat diberikan yaitu jika vaksin primer Sinovac, maka vaksin booster bisa menggunakan 3 jenis vaksin antara lain AstraZeneca separuh dosis (0,25 ml), Pfizer separuh dosis (0,15 ml), dan Moderna dosis penuh (0,5 ml).

Vaksin primernya AstraZeneca maka boosternya bisa menggunakan vaksin Moderna separuh dosis (0,25 ml), vaksin Pfizer separuh dosis (0,15 ml), dan vaksin AstraZeneca dosis penuh (0,5 ml). Vaksin primer Pfizer, untuk booster bisa menggunakan vaksin Pfizer dosis penuh (0,3 ml), Moderna separuh dosis (0,25 ml), dan AstraZeneca dosis penuh (0,5 ml).

Vaksin primer Moderna, booster dengan menggunakan vaksin yang sama separuh dosis (0,25 ml). Kemudian vaksin primer Janssen (J&J), maka untuk booster dengan menggunakan Moderna separuh dosis (0,25 ml).

Selanjutnya vaksin primer Sinopharm booster nya menggunakan vaksin Sinopharm juga dengan dosis penuh (0,5 ml).

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmidzi mengatakan vaksin booster yang digunakan berdasarkan ketersediaan di setiap daera.

"Vaksin yang digunakan untuk dosis booster ini disesuaikan dengan ketersediaan vaksin di masing-masing daerah dengan mengutamakan vaksin yang memiliki masa expired terdekat. Di samping itu, vaksinasi dosis primer tetap harus dikejar agar dapat mencapai target," katanya di Jakarta, Senin (28/2).

Tata cara pemberian, tempat pelaksanaan, alur pelaksanaan dan pencatatan vaksinasi COVID-19 tetap mengacu pada Surat Edaran Nomor HK.02.02/II/252/2022 tentang Vaksinasi COVID-19 Dosis Lanjutan (Booster).


Sumber :

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati, MKM Kemenkes


PD III Rusia – Ukraina dan Kemungkinan 10 Senjata Biologi Yang Digunakan

2:09:00 PM Add Comment

            



        Senjata biologi (biological weapon) adalah senjata yang menggunakan patogen (bakteri, virus, atau organisme penghasil penyakit lainnya) sebagai alat untuk membunuh, melukai, atau melumpuhkan musuh. Dalam pengertian yang lebih luas, senjata biologi tidak hanya berupa organisme patogen, tetapi juga toksin berbahaya yang dihasilkan oleh organisme tertentu. Dalam kenyataanya, senjata biologi tidak hanya menyerang manusia, tetapi juga hewan dan tanaman.

            Pembuatan dan penyimpanan senjata biologi telah dilarang oleh Konvensi Senjata Biologi 1972 yang ditandatangani oleh lebih dari 100 negara. Alasan pelarangan ini adalah untuk menghindari efek yang dihasilkan senjata biologi, yang dapat membunuh jutaan manusia, dan menghancurkan sektor ekonomi dan sosial. Namun, Konvensi Senjata Biologi hanya melarang pembuatan dan penyimpanan senjata biologi, tetapi tidak melarang pemakaiannya.

 Karena kebencian dan keserakahan manusia maka teknologi dan strategi berperang mereka menggunakan  senjata biologis. Senjata biologis adalah senjata yang memanfaatkan bakteri, virus atau organisme yang mampu menghasilkan penyakit, dengan tujuan untuk melumpuhkan, melukai, bahkan membunuh musuh.

 

1.    Anthrax

     Bacillus Anthracis, bakteri penyebab Anthrax, merupakan salah satu agen bio paling mematikan dan dimanfaatkan untuk senjata biologi. Anthrax diperkirakan telah digunakan sebagai senjata biologi selama sekitar satu abad lalu. Tak hanya mematikan, Anthrax bisa dibilang adalah salah satu senjata yang sangat mengerikan serta fleksibel karena tak terlihat, menular, serta tidak berbau. Bahkan, Anthrax dalam wujud bubuk pernah dikirim dengan sengaja lewat sistem pos di AS pada 2001. Dari 22 orang yang terinfeksi, tujuh orang merupakan pekerja pos, dan total lima orang meninggal akibat serangan itu. Korban Anthrax dapat mengalami gangguan kulit terasa melepuh dan gatal, pembengkakan di sekitar kulit yang melepuh, termasuk rasa tidak nyaman di dada, demam, menggigil, pusing, batuk, mual, muntah, sakit perut, sakit kepala, kelelahan ekstrem, dan nyeri pada seluruh tubuh.

 

2.    Botulisme

     Botulisme merupakan salah satu racun paling mematikan di dunia. Racun Botulisme menjadi salah satu senjata biologis yang relatif mudah diproduksi, karena bakteri dari racun ini bisa didapatkan secara alami di tanah hutan, sedimen dasar danau dan sungai, serta saluran usus dari beberapa ikan maupun hewan. Hanya dengan 1 gram racun Botulisme bisa menewaskan 1 juta orang yang menghirupnya. Botulisme pernah digunakan kelompok Jepang untuk menginfeksi tahanan perang mereka. Gejala Botulisme bisa sangat parah. Otot-otot di wajah akan menjadi lumpuh, dan jika tidak ditangani, kelumpuhan itu dapat menyebar ke seluruh tubuh bahkan mematikan otot-otot yang digunakan untuk bernapas.

 

3.    Variola (cacar)

     Dikenal juga dengan sebutan "wabah merah", Variola atau cacar adalah penyakit yang sangat menular yang menyebabkan demam tinggi, sakit kepala dan tubuh, ruam yang parah, dan bintil yang menutupi sebagian besar tubuh. Ada dua laboratorium di dunia yang memiliki akses langsung ke penyakit tersebut untuk tujuan penelitian, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, dan Center for Virology and Biotechnology Research Rusia. WHO khawatir suatu negara atau organisasi teroris dapat menggunakan penyakit tersebut sebagai senjata biologis di masa depan. Pada tahun 1980, pemerintah Uni Soviet mengembangkan virus cacar dalam jumlah besar yang disimpan dalam tangki berpendingin untuk digunakan sebagai agen senjata biologis. Ancaman penggunaan cacar sebagai senjata biologis menurun ketika WHO meluncurkan program imunisasi global yang sukses melawan cacar tahun 1967. Meski demikian, vaksinasi tidak menghasilkan kekebalan seumur hidup dari penyakit tersebut.

 

4.    Q Fever

     Q Fever adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Coxiella burnetii. Bakteri ini muncul secara alami dan menginfeksi hewan seperti domba, sapi, dan kambing, menyebabkan produk sampingannya (susu, feses, dan bahkan plasenta) terkontaminasi. Kebanyakan orang yang menelan Coxiella burnetii tidak menunjukkan gejala, tetapi gejalanya biasanya mirip flu. Meski pasien terinfeksi Fever Q tidak terlalu menular, AS dan Uni Soviet mengembangkan versi senjata dari bakteri ini dalam jumlah besar. Varietas yang dipersenjatai dibuat sangat mudah menular, dan percobaan pada manusia terbukti sangat berhasil karena semua orang yang secara sukarela terinfeksi penyakit tersebut memperlihatkan gejala. Pengujian Fever Q berlangsung selama dua dekade di AS. Pada tahun 2006, CDC AS membatasi penelitian yang dilakukan di fasilitas A&M Texas setelah ditemukan tiga peneliti tertular penyakit tersebut dan tidak melaporkannya ke CDC sesuai yang ditentukan oleh hukum. Adapun informasi tersebut diperoleh dari pengawas biosafety melalui Freedom of Information Act. Untuk diketahui, varian Fever Q yang dipersenjatai dapat diobati dengan antibiotik.

 

5.    Tularemia

     Bakteri Francisella tularensis penyebab Tularemia atau demam kelinci, memiliki kemampuan menginfeksi yang ekstrem, mudah menyebar, hingga bisa menyebabkan kematian. Orang yang terkena Francisella tularensis mengalami gejala ulkus kulit, demam, batuk, muntah, dan diare. Dr. Kenneth Alibek, mantan ilmuwan yang terlibat dalam program senjata biologis Uni Soviet, mengungkapkan penggunaan tularensis oleh tentara Uni Soviet melawan pasukan Jerman dalam pertempuran Stalingrad selama Perang Dunia II. Bakteri yang diklasifikasikan sebagai agen Kategori A itu telah dipelajari oleh unit penelitian perang Jepang dan beberapa kekuatan militer negara-negara Barat untuk keperluan militer.

 

6.    Bunyavirus

     Keluarga virus Bunyaviridae ini mencakup tiga virus: Nairovirus, Phlebovirus, dan Hantavirus. Demam berdarah Korea yang disebabkan oleh Hantavirus pecah selama Perang Korea ketika diperkirakan tiga ribu tentara Amerika Serikat dan Korea terinfeksi penyakit tersebut. Namun, bukti penggunaan langsungnya sebagai senjata biologis masih belum ditemukan. Bunyavirus menyebabkan infeksi pada manusia seperti Hanta Pulmonary Syndrome (HPS), demam Rift Valley, dan demam berdarah Krimea-Kongo. Infeksinya ditularkan oleh artropoda dan hewan pengerat, serta terkadang dapat menginfeksi manusia juga. Virus Hanta penyebab HPS menyebabkan tingkat kematian hingga 50%.

 

7.    Yersinia pestis

     Bakteri satu ini bisa menjadi senjata biologis yang dapat menyebabkan wabah pneumonia. Gejala-gejala awal yang ditimbulkan adalah demam, radang paru-paru yang dapat sebabkan gagal napas hingga berujung kematian bila tidak ditangani dengan baik. Wabah semacam ini telah digunakan sebagai senjata oleh tentara Jepang saat Perang Dunia II. Yersinia pestis sengaja dijatuhkan di daerah-daerah sekitar China dan Manchuria.

 

8.    Virus Marburg

    Demam Berdarah Marburg (Marburg HF) disebabkan oleh virus Marburg dari famili filovirus, yang juga termasuk virus Ebola. Virus Marburg juga merupakan agen perang biologis Kategori A yang diidentifikasi oleh sistem klasifikasi CDC dan dibawa di tubuh kelelawar buah Afrika. Virusnya dapat diisolasi dan diproduksi sebagai senjata biologis. Uni Soviet melakukan eksperimen dengan virus Marburg dalam bentuk aerosol untuk mengubahnya menjadi senjata biologis operasional strategis. Para ilmuwan Soviet dilaporkan lebih memilih Marburg daripada Coxiella burnetii (demam Q) karena Marburg memiliki tingkat kematian kasus yang tinggi hingga 90%.

 

9.    Aflatoxin

    Aflatoxin adalah sejumlah metabolit berbahaya yang terkait secara struktural yang dikembangkan oleh strain jamur tertentu. Metabolit ini menyebabkan kematian sel atau organ, hingga penyakit hati sirosis yang mengakibatkan kegagalan fungsi hati dan kanker. Komisi Khusus PBB (UNSCOM), pada tahun 1995 menemukan produksi Aflatoxin dan beragam pengerahan amunisi di Irak, yang dihancurkan setelah Perang Teluk. Menurut laporan Army Technology, metabolitnya memiliki toksisitas yang sangat rendah, sehingga diperlukan dalam jumlah besar untuk disebarkan di medan perang untuk menghasilkan dampak yang mematikan.

 

10.                          Ebola

   Virus Ebola pertama kali ditemukan pada tahun 1976 di Republik Kongo dan ditransmisikan dari hewan liar ke manusia. Ebola berpotensi dijadikan senjata biologis yang dapat menjadi ancaman besar untuk manusia karena dapat sebabkan kematian. Ada dugaan Ebola diproduksi sebagai senjata oleh Uni Soviet antara tahun 1986 hingga 1990. Namun sejauh ini, dugaan tersebut masih belum bisa dibuktikan.

 

Ular Piton Putih Keemasan dan Klasifikasinya

8:30:00 PM Add Comment

 

Ular Piton

Ular piton atau yang juga biasa disebut ular sanca merupakan salah satu ular dari famili Pythonida. Salah satu jenis dari ular ini memiliki nama latin Malayopython reticulatus, yaitu sanca kembang. Sebaran ular sanca meliputi Afrika, Australia, Amerika, Asia, termasuk Indonesia. Piton merupakan ular tidak berbisa dengan panjang antara 1,5 meter hingga 6,5 meter, sedangkan untuk beratnya 1 kg hingga 75 kg. Ular piton umumnya ditemukan di padang rumput, hutan tropis ataupun perairan air tawar.  Pada beberapa kasus, ular piton diketahui memangsa manusia meski sebenarnya mangsa utama mereka bukanlah manusia. Sebab ular sanca umumnya memangsa burung, tikus, babi hutan, rusa ataupun monyet. Sedangkan jika hidup di sekitar pemukiman manusia, maka mereka akan memangsa anjing, kucing, ayam serta hewan ternak lainnya. Gaya berburu dari ular piton yaitu dengan menangkap mangsanya kemudian melilit kuat mangsanya hingga kehabisan nafas. Ular piton juga kerap menyerang mangsanya dengan cara melilit hingga tulang dada serta panggul remuk sehingga ini memudahkan ular piton untuk menelannya.

 1.      Taksonomi

Secara umum, ular sanca adalah anggota dari famili Pythonidae dengan klasifikasi sebagai berikut:

Kerajaan         

Filum  

Kelas  

Ordo   

Upaordo         

Infraordo        

Famili 

Animalia

Chordata

Reptilia

Squamata

Serpentes

Alethinophidia

Pythonidae

1.       

2.      Habitat & Sebaran

Tempat tinggal ular piton adalah kawasan hutan hujan tropis, sungai, hingga padang rumput. Reptil melata ini tersebar meliputi Afrika Sub-Sahara, Nepal, India, Sri Lanka, Myanmar, Tiongkok selatan, Asia Tenggara, serta mulai Filipina ke selatan hingga Indonesia, Papua Nugini, dan Australia. Di Amerika Serikat, terdapat salah satu spesies sanca, yaitu Python bivittatus atau sanca bodo yang menjadi spesies invasif sejak tahun 1990an.

 

3.      Ciri & Karakteristik

Meski piton dikenal sebagai ular ganas, namun ular ternyata memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a)    piton adalah ulat tidak berbisa

b)   piton tidak mampu melihat sekelilingnya secara jelas

c)    piton tidak bisa mendengar atau tuli

d)   piton mampu mendeteksi suhu disekitarnya

e)    piton sangat ahli mendeteksi gerakan

f)    piton akan memangsa sesuai dengan kebutuhan kalorinya

g)   Ular sanca mempunyai gigi tajam yang melengkung ke belakang,

h)   jumlah empat baris pada rahang atas,

i)     serta dua di rahang bawah.

j)     Gigi tersebut digunakan untuk menangkap mangsa kemudian melilitnya dengan sangat kuat hingga jantung mangsanya berhenti.

 

4.      Jenis Ular Piton

Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ada 13 jenis ular piton yang hidup di Indonesia, antara lain:

1)             Ular Sanca Batik

          Ular piton jenis sanca batik memiliki pola sisik menyerupai batik. Ular ini tersebar di seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ular sanca batik adalah salah satu reptil terpanjang di dunia dengan panjang mencapai 8 meter.

 

2)             Ular Sanca Bodo / Phyton Burma

          Ular piton jenis ini keberadaannya cukup langka karena sulit ditemukan di hutan yang menjadi habitat aslinya. Oleh karena kelangkaannya, seringkali membuat ular ini diperdagangkan.

 

3)             Ular Sanca Darah

          Ular sanca darah dapat ditemukan di kawasan hutan Sumatera. Karakteristik dari ular ini adalah bertubuh yang pendek dengan panjang maksimal sekitar 3 meter. Ular ini cenderung gemuk, warna tubuhnya kemerahan menyerupai darah sehingga disebut sebagai ular sanca darah.

 

4)             Ular Sanca Bulan

          Spesies piton ini hidup di hutan pegunungan Papua, tepatnya pada ketinggian lebih dari 1.750 meter di atas permukaan laut. Warna ular piton sanca bulan cenderung kehitaman dengan panjang tubuh dewasa sekitar 3 meter. Karena termasuk piton pendek, maka mangsa utamanya adalah reptil kecil.

 

5)             Ular Sanca Hijau

          Jenis piton hijau mempunya sisik berwarna hijau terang. Ukuran tubuhnya tidak terlalu panjang dan seringkali ditemukan di pepohonan. Warnanya yang hijau terkadang menyamarkan diri dari dedaunan. Habitat sanca hijau adalah kawasan hutan di Papua.

 

6)             Ular Piton Halmahera

          Ular piton jenis ini mirip dengan sanca permata, namun hanya tersebar di wilayah Halmahera meliputi Ternate, Tidore hingga Tanibar.

 

7)             Ular Piton Maluku

          Karakteristik utama dari ular piton maluku adalah warna tubuhnya yang cokelat terang. Sebaran utamanya berada di kawasan Maluku dan sekitarnya.

 

8)             Ular Sanca Pelangi

          Tidak seperti namanya, sebeanrnya sanca pelangi memiliki warna cokelat, tetapi akan menyerupai pelangi bila terkena sinar matahari. Ular piton jenis ini aktif hanya pada malam hari, sedangkan pada siang hari biasanya ular ini akan bersembunyi di vegetasi atau di sekitar sungai.

 

9)             Ular Sanca Mata Putih

          Seperti namanya, ular piton mata putih mempunyai mata berwarna putih. Panjang tubuhnya hanya sekitar 1,5 meter. Ular ini seringkali disebut sebagai ular piton terkecil di dunia. Mangsa piton jenis ini adalah tikus dan hewan lain berukuran sedang. Sebaran utama sanca putih berada di daerah Papua.

 

10)         Ular Sanca Cokelat

          Piton jenis ini memiliki kulit sisik berwarna cokelat yang tampak mengkilap bila terkena cahaya. Panjang ular sanca cokelat tidak lebih dari 2,5 meter. Habitat ular piton cokelat adalah pedalaman hutan Papua.

 

11)         Ular Darah Hitam

          Ular piton darah hitam tersebar di kawasan Sumatera. Ular ini memiliki ciri tubuh pendek. Warna tubuhnya cenderung gelap dan menjadi salah satu incaran pedagang kulit hewan. Alasannya adalah karena ular ini mempunyai kulit dengan pola menarik untuk bahan dasar tas, sepatu dan aksesoris lainnya.

 

12)         Ular Piton Puraca

          Piton puraca memiliki warna kulit dominan cokelat dengan ukuran panjang sekitar 3 meter. Ular ini seringkali disebut sebagai ripung atau lipung.

 

13)         Ular Sanca Permata

          Sanca permata dapat dijumpai di hutan-hutan di Papua. Karakteristik utama dari ular ini adalah warna kulitnya yang terang menyerupai permata. Ular ini menjadi ular sanca terpanjang yang pernah ditemukan di Indonesia, yakni sepanjang 8,5 meter. Ukuran tersebut terbilang langka karena biasanya ukurannya hanya mencapai 5 meter.

 

 


Apa itu COVID-19 dan OMICRON ?

6:26:00 PM Add Comment
Omicron
Omicron 

Salah satu penelitian mengenai obat COVID-19 menunjukkan hasil menggembirakan. Glenmark Pharmaceuticals, perusahaan farmasi global yang menggandeng Sanotize Research & Development Corp, mengumumkan kabar gembira dari uji klinis fase 3 Nitric Oxide Nasal Spray (NONS) atau yang dikenal di Indonesia dengan nama Enovid Nose Sanitizer. Seperti dilansir dari Antara Kamis 10 Februari 2022, hasil baik ini berdasar pengujian Enovid Nose Sanitizer yang dilakukan pada pasien dewasa COVID-19 di 20 lokasi di India. Fase ke-3 ini mengevaluasi kemanjuran dan keamanan Enovid Nose Sanitizer dibandingkan semprotan hidung saline pada pasien dewasa.

Percobaan juga menganalisis pasien dengan risiko peningkatan gejala- pasien yang tidak divaksinasi, pasien dalam kelompok usia menengah dan lebih tua, dan pasien dengan penyakit penyerta atau komorbid. Enovid Nose Sanitizer yang di India diberi nama Fabispray, ternyata menghasilkan "fresh nitric oxide" saat disemprotkan ke hidung, dirancang untuk membunuh virus COVID-19 di saluran pernapasan atas. Nitric Oxide Nasal Spray (NONS) ketika disemprotkan di atas mukosa hidung bertindak sebagai penghalang dan pembunuh virus, pencegah inkubasi dan penyebaran virus ke paru-paru.

Hasilnya, jangka waktu penyembuhan COVID-19 untuk pasien yang diberikan Enovid rata-rata adalah empat hari dibandingkan dengan 8 hari pada kelompok plasebo (tidak diberikan Enovid). Penggunaan Enovid aman dan ditoleransi dengan baik oleh pasien. Tidak ada pasien yang mengalami efek samping sedang, berat, serius atau kematian dalam penelitian ini. Dr. Monika Tandon, Wakil Presiden Senior & Kepala - Pengembangan Klinis, Glenmark Pharmaceuticals Ltd., dalam siaran pers pada Kamis mengatakan bahwa hasil dari uji coba Fase 3 ini sangat memberi dampak yang bagus. "Demonstrasi pengurangan viral load memiliki dampak yang sangat membantu. Dalam skenario ini, dengan varian baru yang muncul menunjukkan transmisibilitas tinggi, Enovid memberikan opsi yang berguna dalam perjuangan India melawan COVID-19," katanya. 

Sementara itu, Dr. Gilly Regev selaku Co-Founder dan CEO Sanotize mengatakan hasil uji klinis selanjutnya memperkuat kemanjuran produk seperti yang ditunjukkan oleh uji coba Fase 2 di Inggris - dengan mitra globalnya, Glenmark, untuk melawan COVID-19.

 

Varian Baru Covid-19  (OMICRON)

Ahli virus dari Universitas Udhayana, Prof I Gusti Ngurah Kadek Mahardika mengatakan sejauh ini belum ada data klinis yang menunjukkan varian baru ini membuat gejala berat pada pasien. Bagaimanapun, kemungkinan varian baru "lebih ganas dan kurang ganas" terhadap tubuh manusia. "Potensinya dua, yaitu lebih ganas dan kurang ganas. Jadi perubahan itu selalu dua arah, tak pernah satu arah," kata Prof I Gusti Ngurah Kadek Mahardika. Untuk mengetahui hal tersebut diperlukan data lebih lanjut seperti uji tantang pada hewan coba, termasuk "data klinis dari pasien, baru kita bisa berasosiasi dengan patologi dan gejala klinis, dan juga keganasan virus". Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan sejauh ini dampak dari varian baru Covid-19 ini belum terkonfirmasi.

Kemenkes mencatat sembilan negara terkonfirmasi varian Omicron dengan 128 kasus. Di antaranya sebagian negara bagian Afrika Selatan, Hongkong, Inggris, Italia, dan Belgia. "Jadi total 13 negara. Sembilan pasti ada. Empat masih kemungkinan ada," kata Menkes Budi. Untuk negara-negara yang sudah terkonfirmasi ada, yang paling banyak penerbangan ke Indonesia adalah "Hongkong, Italia, Inggris, baru Afrika Selatan." "Untuk negara-negara yang kemungkinan ada, paling besar dari Belanda, Jerman," kata Menkes Budi.

Sumber : Tempo & BBC






Makalah Hidroponik

3:02:00 PM Add Comment

        

Biologi Mapiha
Hydroponik stroberry di samping rumah 


        Bercocok tanam merupakan kegiatan yang sejak dahulu telah dilakukan oleh nenek moyang kita. Kegiatan bercocok tanam lebih terkhusus pada sektor pertanian yang dapat menunjang kebutuhan ekonomi masyarakat/petani. Petani telah terbiasa melakukan sistem konvensional dalam bertani, yaitu dengan mengolahan lahan terlebih dahulu, kemudian menunggu hujan turun adalah waktu yang tepat untuk menanam. Tentu saja ini bukan lah kegiatan yang efektif jika dibandingkan antara zaman dahulu dan zaman modern seperti saat ini.


KINI PENYAKIT BAWAAN GENETIK BISA DIOBATI

5:44:00 PM Add Comment

 

Karikatur Untaian DNA 

Penemuan CRISPR/Cas 9 dinobatkan sebagai pemenang Hadiah Nobel Kimia 2020. Teknologi ini memungkinkan manusia untuk mengganti dan memodifikasi gen yang tidak diinginkan. Melalui CRISPR/Cas 9, peluang untuk menyembuhkan penyakit-penyakit genetik yang sebelumnya dianggap tidak bisa diobati telah terbuka.

 

Berikut adalah tujuh di antaranya, seperti dilansir dari Labiotech.eu:


1.                   Kanker

 Salah satu potensi yang paling diharapkan dari penggunaan CRISPR adalah untuk menyembuhkan kanker. Potensi ini sedang dieksplorasi di Hangzhou Cancer Hospital, China dan telah dicobakan pada 86 pasien. Baca juga: Menang Nobel Kimia 2020, Apa Itu CRISPR Gunting Kode Kehidupan? Para peneliti China memodifikasi sel imun T pada pasien untuk membuang gen yang mengkode protein PD-1. Untuk diketahui, ada beberapa jenis tumor yang bisa mengikat protein PD-1 pada permukaan sel imun dan mematikan kemampuan sel imun untuk melawan. Selain China, University of Pennsylvania di Amerika Serikat juga sedang melakukan uji klinis terhadap potensi CRISPR untuk menyembuhkan kanker. Para peneliti memodifikasi sel imunitas dari pasien untuk bisa mengenali dan membunuh sel kanker. Hasil temuan awal dari penelitian di China dan Amerika Serikat mengungkapkan bahwa terapi ini aman digunakan pada pasien kanker.

 

2.                   Kelainan darah

 CRISPR juga berpotensi menangani kelainan darah, seperti beta-thalasemia dan penyakit sel sabit yang menganggu kemampuan darah untuk memindahkan oksigen. Sebuah terapi yang dikembangkan oleh CRISPR Therapeutics dan Vertex Pharmaceuticals memanen sel punca sumsum tulang pasien dan memodifikasinya untuk memproduksi hemoglobin F atau hemoglobin fetal, protein pengangkut oksigen dengan kemampuan mengikat oksigen yang lebih superior. Baca juga: Level Baru Teknologi Rekayasa Genetika Setelah Era CRISPR CAS-9

 

3.    Kebutaan genetis

Kebanyakan kebutaan yang bisa diturunkan. disebabkan oleh mutasi spesifik pada gen. Hal ini membuat kebutaan genetis menjadi target yang baik untuk CRISPR/Cas 9. Editas Medicine sedang berupaya mengembangkan terapi CRISPR untuk menangani Leber congenital amaurosis, penyebab paling umum dari kebutaan bawaan pada anak-anak. Mereka menarget mutasi yang paling umum di balik penyakit ini untuk mengembalikan sel sensitif cahaya sebelum penderitanya menjadi buta total.

 

4.                   AIDS

Ada beberapa cara CRISPR dapat digunakan untuk melawan AIDS. Salah satunya adalah memotong DNA virus HIV dari persembunyiannya di dalam DNA sel imun dan membunuhnya dalam keadaan tidak aktif (dorman). Cara lainnya adalah dengan membuat manusia menjadi kebal HIV. Dalam sebuah kasus yang sangat kontroversial di China pada 2018, biofisikawan He Jiankui memodifikasi embrio manusia untuk mengalami mutasi gen yang disebut CCR5. Mutasi ini mengubah struktur protein pada sel imun yang digunakan oleh HIV untuk masuk, sehingga tidak bisa lagi diikat oleh HIV. Baca juga: Pelajaran Penting dari Gagalnya Modifikasi Gen Bayi di China

 

5.                   Fibrosis sistik

Fibrosis sistik adalah sebuah penyakit genetik yang menyebabkan gangguan pernapasan parah pada manusia. Meski ada beberapa pengobatan untuk mengurangi gejalanya, harapan hidup penderita fibrosis sistik hanya sekitar 40 tahun. Menggunakan CRISPR, para peneliti telah membuktikan kemungkinan dalam memodifikasi dan memperbaiki mutasi yang paling umum pada gen CFTR yang menyebabkan penyakit ini.

 

6.                   Distrofi otot Duchenne

Distrofi otot Duchenne (DMD) adalah penyakit bawaan yang menyebabkan kelemahan otot progresif. Penyakit ini disebabkan oleh mutasi pada gen DMD yang mengkodekan protein untuk mengontraksi otot. Penelitian pada tikus tealh menunjukkan bahwa CRISPR dapat digunakan untuk memperbaiki beberapa mutasi genetik di balik penyakit ini. Baca juga: Kali Pertama, Modifikasi Gen Sembuhkan HIV pada Hewan Hidup

 

7.                   Penyakit Huntington

Penyakit Huntington adalah penyakit keturunan yang menyerang sel-sel saraf dan menyebabkan kerusakan otak. Penyakit ini disebabkan oleh adanya pengulangan pada urutan DNA tertentu di dalam gen Huntington. Para peneliti berharap untuk menyembuhkan penyakit ini dengan menggunakan CRISPR. Masalahnya, karena berada di otak, efek CRISPR yang meleset bisa menyebabkan konsekuensi serius. Untuk mengurangi risiko ini, para peneliti di Amerika Serikat pun mengembangkan KamiCas 9, versi lain dari CRISPR/Cas 9 yang bisa menghancurkan dirinya sendiri. Artinya, setelah Cas9 menjadi aktif untuk waktu yang singkat, KamiCas 9 akan mematikan enzim pembelah DNA selamanya.

Kromatida 



@) Sumber “Kompas.com

 

 

Unggulan Post

Warna Feses Bisa Menunjukkan Kondisi Kesehatan Anda.

Karikatur Fese dalam usus manusia  Feses merupakan hasil kotoran dari proses pencernaan. Kotoran ini terdiri dari sisa-sisa makanan yang tid...