Kegiatan
review jurnal dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan menulis untuk memberikan
ulasan/tinjauan pada sebuah artikel jurnal agar diketahui kelebihan,
kekurangan, dan kualitasnya. Secara umum, review jurnal bertujuan untuk
memberikan informasi, gambaran, ide/gagasan tentang artikel jurnal yang telah
dibuat.
Untuk
mengukur keberhasilan Pembangunan kesehatan diperlukan indikator. Derajat
kesehatan merupakan salah satu kelompok penting indikator Indonesia Sehat atau
merupakan indikator hasil.
Gambaran
tentang derajat kesehatan meliputi indikator Mortalitas (kematian), Morbiditas
(kesakitan), dan Status Gizi. Angka mortalitas dapat dilihat dari Angka
Kematian Bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup, Angka Kematian Balita (AKABA) per
1000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Ibu (AKI) per 100.000 kelahiran hidup.
Angka Morbiditas dilihat dari angka kesakitan beberapa penyakit balita dan
dewasa.
Selain
dipengarui oleh faktor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan
sumber daya kesehatan, derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh
faktor lain seperti faktor ekonomi, pendididkan, lingkungan, sosial serta
faktor-faktor lain yang kondisinya indikator angka kesakitan Malaria per 1000
penduduk, Angka Kesembuhan TB Paru per 1000 penduduk, Angka Acute Flaccid
Paralysis
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah pengelolaan kesehatan yangdiselenggarakan oleh semua komponenbangsa Indonesia secara terpadu dan salingmendukung, guna menjamin tercapainyaderajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya
(Perpres No. 72 Tahun 2012tentang SKN)
Subsistem
SDM kesehatan adalah pengelolaan upayapengembangan dan pemberdayaan sumber dayamanusia kesehatan, yang meliputi: upaya
perencanaan,pengadaan, pendayagunaan,
serta pembinaan danpengawasan mutu SDM
kesehatan untuk mendukungpenyelenggaraan pembangunan kesehatan gunamewujudkan derajat kesehatan masyarakat
yangsetinggi-tingginya.
Ular piton atau yang juga biasa disebut ular
sanca merupakan salah satu ular dari famili Pythonida. Salah satu jenis dari
ular ini memiliki nama latin Malayopython reticulatus, yaitu sanca kembang.
Sebaran ular sanca meliputi Afrika, Australia, Amerika, Asia, termasuk
Indonesia. Piton merupakan ular tidak berbisa dengan panjang antara 1,5 meter
hingga 6,5 meter, sedangkan untuk beratnya 1 kg hingga 75 kg. Ular piton
umumnya ditemukan di padang rumput, hutan tropis ataupun perairan air tawar. Pada
beberapa kasus, ular piton diketahui memangsa manusia meski sebenarnya mangsa
utama mereka bukanlah manusia. Sebab ular sanca umumnya memangsa burung, tikus,
babi hutan, rusa ataupun monyet. Sedangkan jika hidup di sekitar pemukiman
manusia, maka mereka akan memangsa anjing, kucing, ayam serta hewan ternak
lainnya. Gaya berburu dari ular piton yaitu dengan menangkap mangsanya kemudian
melilit kuat mangsanya hingga kehabisan nafas. Ular piton juga kerap menyerang
mangsanya dengan cara melilit hingga tulang dada serta panggul remuk sehingga
ini memudahkan ular piton untuk menelannya.
1.Taksonomi
Secara umum,
ular sanca adalah anggota dari famili Pythonidae dengan klasifikasi sebagai
berikut:
Kerajaan
Filum
Kelas
Ordo
Upaordo
Infraordo
Famili
Animalia
Chordata
Reptilia
Squamata
Serpentes
Alethinophidia
Pythonidae
1.
2.Habitat & Sebaran
Tempat tinggal
ular piton adalah kawasan hutan hujan tropis, sungai, hingga padang rumput.
Reptil melata ini tersebar meliputi Afrika Sub-Sahara, Nepal, India, Sri Lanka,
Myanmar, Tiongkok selatan, Asia Tenggara, serta mulai Filipina ke selatan
hingga Indonesia, Papua Nugini, dan Australia. Di Amerika Serikat, terdapat
salah satu spesies sanca, yaitu Python bivittatus atau sanca bodo yang menjadi
spesies invasif sejak tahun 1990an.
3.Ciri & Karakteristik
Meski piton dikenal
sebagai ular ganas, namun ular ternyata memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a)piton
adalah ulat tidak berbisa
b)piton
tidak mampu melihat sekelilingnya secara jelas
c)piton
tidak bisa mendengar atau tuli
d)piton
mampu mendeteksi suhu disekitarnya
e)piton
sangat ahli mendeteksi gerakan
f)piton
akan memangsa sesuai dengan kebutuhan kalorinya
g)Ular
sanca mempunyai gigi tajam yang melengkung ke belakang,
h)jumlah
empat baris pada rahang atas,
i)serta
dua di rahang bawah.
j)Gigi
tersebut digunakan untuk menangkap mangsa kemudian melilitnya dengan sangat
kuat hingga jantung mangsanya berhenti.
4.Jenis Ular Piton
Menurut Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI), ada 13 jenis ular piton yang hidup di Indonesia,
antara lain:
1)Ular Sanca Batik
Ular
piton jenis sanca batik memiliki pola sisik menyerupai batik. Ular ini tersebar
di seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ular sanca batik adalah salah
satu reptil terpanjang di dunia dengan panjang mencapai 8 meter.
2)Ular Sanca Bodo / Phyton Burma
Ular
piton jenis ini keberadaannya cukup langka karena sulit ditemukan di hutan yang
menjadi habitat aslinya. Oleh karena kelangkaannya, seringkali membuat ular ini
diperdagangkan.
3)Ular Sanca Darah
Ular
sanca darah dapat ditemukan di kawasan hutan Sumatera. Karakteristik dari ular
ini adalah bertubuh yang pendek dengan panjang maksimal sekitar 3 meter. Ular
ini cenderung gemuk, warna tubuhnya kemerahan menyerupai darah sehingga disebut
sebagai ular sanca darah.
4)Ular Sanca Bulan
Spesies
piton ini hidup di hutan pegunungan Papua, tepatnya pada ketinggian lebih dari
1.750 meter di atas permukaan laut. Warna ular piton sanca bulan cenderung
kehitaman dengan panjang tubuh dewasa sekitar 3 meter. Karena termasuk piton
pendek, maka mangsa utamanya adalah reptil kecil.
5)Ular Sanca Hijau
Jenis
piton hijau mempunya sisik berwarna hijau terang. Ukuran tubuhnya tidak terlalu
panjang dan seringkali ditemukan di pepohonan. Warnanya yang hijau terkadang
menyamarkan diri dari dedaunan. Habitat sanca hijau adalah kawasan hutan di
Papua.
6)Ular Piton Halmahera
Ular
piton jenis ini mirip dengan sanca permata, namun hanya tersebar di wilayah
Halmahera meliputi Ternate, Tidore hingga Tanibar.
7)Ular Piton Maluku
Karakteristik
utama dari ular piton maluku adalah warna tubuhnya yang cokelat terang. Sebaran
utamanya berada di kawasan Maluku dan sekitarnya.
8)Ular Sanca Pelangi
Tidak
seperti namanya, sebeanrnya sanca pelangi memiliki warna cokelat, tetapi akan
menyerupai pelangi bila terkena sinar matahari. Ular piton jenis ini aktif
hanya pada malam hari, sedangkan pada siang hari biasanya ular ini akan
bersembunyi di vegetasi atau di sekitar sungai.
9)Ular Sanca Mata Putih
Seperti
namanya, ular piton mata putih mempunyai mata berwarna putih. Panjang tubuhnya
hanya sekitar 1,5 meter. Ular ini seringkali disebut sebagai ular piton
terkecil di dunia. Mangsa piton jenis ini adalah tikus dan hewan lain berukuran
sedang. Sebaran utama sanca putih berada di daerah Papua.
10)Ular Sanca Cokelat
Piton
jenis ini memiliki kulit sisik berwarna cokelat yang tampak mengkilap bila
terkena cahaya. Panjang ular sanca cokelat tidak lebih dari 2,5 meter. Habitat
ular piton cokelat adalah pedalaman hutan Papua.
11)Ular Darah Hitam
Ular
piton darah hitam tersebar di kawasan Sumatera. Ular ini memiliki ciri tubuh
pendek. Warna tubuhnya cenderung gelap dan menjadi salah satu incaran pedagang
kulit hewan. Alasannya adalah karena ular ini mempunyai kulit dengan pola
menarik untuk bahan dasar tas, sepatu dan aksesoris lainnya.
12)Ular Piton Puraca
Piton
puraca memiliki warna kulit dominan cokelat dengan ukuran panjang sekitar 3
meter. Ular ini seringkali disebut sebagai ripung atau lipung.
13)Ular Sanca Permata
Sanca
permata dapat dijumpai di hutan-hutan di Papua. Karakteristik utama dari ular
ini adalah warna kulitnya yang terang menyerupai permata. Ular ini menjadi ular
sanca terpanjang yang pernah ditemukan di Indonesia, yakni sepanjang 8,5 meter.
Ukuran tersebut terbilang langka karena biasanya ukurannya hanya mencapai 5
meter.
Tebu adalah
tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula. Tebu ini termasuk jenis
rumput-rumputan. Tanaman tebu dapat tumbuh hingga 3 meter di kawasan yang
mendukung. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih
1 tahun. Tebu dapat dipanen dengan cara manual atau menggunakan mesin-mesin
pemotong tebu. Daun kemudian dipisahkan dari batang tebu, kemudian baru dibawa
kepabrik untuk diproses menjadi gula.
Tahapan-tahapan
dalam proses pembuatan gula dimulai dari :
1.Penanaman
tebu,
2.Proses
ektrasi,
3.Pembersihan
kotoran,
4.Penguapan,
5.Kritalisasi,
6.Afinasi,
7.Karbonasi,
8.Penghilangan
warna,
9.Proses
pengepakan
10.Sampai
ketangan konsumen.
1.Ekstraksi
Tahap pertama pembuatan
gula tebu adalah ekstraksi jus atau sari tebu. Caranya dengan menghancurkan
tebu dengan mesin penggiling untuk memisahkan ampas tebu dengan cairannya.
Cairan tebu kemudian dipanaskan dengan boiler. Jus yang dihasilkan masih berupa
cairan yang kotor: sisa-sisa tanah dari lahan, serat-serat berukuran kecil dan
ekstrak dari daun dan kulit tanaman, semuanya bercampur di dalam gula.
2.Ekstraksi
Jus dari hasil
ekstraksi mengandung sekitar 50 % air, 15% gula dan serat residu, dinamakan
bagasse, yang mengandung 1 hingga 2% gula. Dan juga kotoran seperti pasir dan
batu-batu kecil dari lahan yang disebut sebagai “abu”.
3.Pengendapan
kotoran dengan kapur (Liming)
Jus tebu
dibersihkan dengan menggunakan semacam kapur (slaked lime) yang akan
mengendapkan sebanyak mungkin kotoran , kemudian kotoran ini dapat dikirim
kembali ke lahan. Proses ini dinamakan liming. Jus hasil ekstraksi dipanaskan
sebelum dilakukan liming untuk mengoptimalkan proses penjernihan. Kapur berupa
kalsium hidroksida atau Ca(OH)2 dicampurkan ke dalam jus dengan perbandingan
yang diinginkan dan jus yang sudah diberi kapur ini kemudian dimasukkan ke
dalam tangki pengendap gravitasi: sebuah tangki penjernih (clarifier). Jus
mengalir melalui clarifier dengan kelajuan yang rendah sehingga padatan dapat
mengendap dan jus yang keluar merupakan jus yang jernih. Kotoran berupa lumpur
dari clarifier masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya dilakukan penyaringan
dalam penyaring vakum putar (rotasi) dimana jus residu diekstraksi dan lumpur
tersebut dapat dibersihkan sebelum dikeluarkan, dan hasilnya berupa cairan yang
manis. Jus dan cairan manis ini kemudian dikembalikan ke proses.
4.Penguapan
(Evaporasi)
Setelah
mengalami proses liming, proses evaporasi dilakukan untuk mengentalkan jus
menjadi sirup dengan cara menguapkan air menggunakan uap panas (steam).
Terkadang sirup dibersihkan lagi tetapi lebih sering langsung menuju ke tahap
pembuatan kristal tanpa adanya pembersihan lagi. Jus yang sudah jernih mungkin
hanya mengandung 15% gula tetapi cairan (liquor) gula jenuh (yaitu cairan yang
diperlukan dalam proses kristalisasi) memiliki kandungan gula hingga 80%.
Evaporasi dalam ‘evaporator majemuk’ (multiple effect evaporator) yang
dipanaskan dengan steam merupakan cara yang terbaik untuk bisa mendapatkan
kondisi mendekati kejenuhan (saturasi).
5.Pendidihan/
Kristalisasi
Pada tahap akhir
pengolahan, sirup ditempatkan ke dalam wadah yang sangat besar untuk dididihkan.
Di dalam wadah ini air diuapkan sehingga kondisi untuk pertumbuhan kristal gula
tercapai. Pembentukan kristal diawali dengan mencampurkan sejumlah kristal ke
dalam sirup. Sekali kristal terbentuk, kristal campur yang dihasilkan dan
larutan induk (mother liquor) diputar di dalam alat sentrifugasi untuk
memisahkan keduanya, bisa diumpamakan seperti pada proses mencuci dengan
menggunakan pengering berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan
dengan udara panas sebelum disimpan. Larutan induk hasil pemisahan dengan
sentrifugasi masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya kristalisasi
diulang beberapa kali. Sayangnya, materi-materi non gula yang ada di dalamnya
dapat menghambat kristalisasi. Hal ini terutama terjadi karena keberadaan gula-gula
lain seperti glukosa dan fruktosa yang merupakan hasil pecahan sukrosa. Olah
karena itu, tahapan-tahapan berikutnya menjadi semakin sulit, sampai kemudian
sampai pada suatu tahap di mana kristalisasi tidak mungkin lagi dilanjutkan. Sebagai tambahan,
karena gula dalam jus tidak dapat diekstrak semuanya, maka terbuatlah produk
samping (byproduct) yang manis: molasses. Produk ini biasanya diolah lebih
lanjut menjadi pakan ternak atau ke industri penyulingan untuk dibuat alkohol
(etanol) . Belakangan ini molases dari tebu di olah menjadi bahan energi
alternatif dengan meningkatkan kandungan etanol sampai 99,5%.
6.Penyimpanan
Gula kasar yang
dihasilkan akan membentuk gunungan coklat lengket selama penyimpanan dan
terlihat lebih menyerupai gula coklat lunak yang sering dijumpai di dapur-dapur
rumah tangga. Gula ini sebenarnya sudah dapat digunakan, tetapi karena kotor
dalam penyimpanan dan memiliki rasa yang berbeda maka gula ini biasanya tidak
diinginkan orang. Oleh karena itu gula kasar biasanya dimurnikan lebih lanjut
ketika sampai di negara pengguna.
7.Afinasi
(Affination)
Tahap pertama
pemurnian gula yang masih kasar adalah pelunakan dan pembersihan lapisan cairan
induk yang melapisi permukaan kristal dengan proses yang dinamakan dengan
“afinasi”. Gula kasar dicampur dengan sirup kental (konsentrat) hangat dengan
kemurnian sedikit lebih tinggi dibandingkan lapisan sirup sehingga tidak akan
melarutkan kristal, tetapi hanya sekeliling cairan (coklat). Campuran hasil
(‘magma’) di-sentrifugasi untuk memisahkan kristal dari sirup sehingga kotoran
dapat dipisahkan dari gula dan dihasilkan kristal yang siap untuk dilarutkan
sebelum proses karbonatasi. Cairan yang dihasilkan dari pelarutan kristal yang
telah dicuci mengandung berbagai zat warna, partikel-partikel halus, gum dan
resin dan substansi bukan gula lainnya. Bahan-bahan ini semua dikeluarkan dari
proses.
8.Karbonatasi
Tahap pertama
pengolahan cairan (liquor) gula berikutnya bertujuan untuk membersihkan cairan
dari berbagai padatan yang menyebabkan cairan gula keruh. Pada tahap ini
beberapa komponen warna juga akan ikut hilang. Salah satu dari dua teknik
pengolahan umum dinamakan dengan karbonatasi. Karbonatasi dapat diperoleh
dengan menambahkan kapur/ lime [kalsium hidroksida, Ca(OH)2] ke dalam cairan
dan mengalirkan gelembung gas karbondioksida ke dalam campuran tersebut. Gas karbondioksida
ini akan bereaksi dengan lime membentuk partikel-partikel kristal halus berupa
kalsium karbonat yang menggabungkan berbagai padatan supaya mudah untuk
dipisahkan. Supaya gabungan-gabungan padatan tersebut stabil, perlu dilakukan
pengawasan yang ketat terhadap kondisi-kondisi reaksi. Gumpalan-gumpalan yang
terbentuk tersebut akan mengumpulkan sebanyak mungkin materi-materi non gula,
sehingga dengan menyaring kapur keluar maka substansi-substansi non gula ini
dapat juga ikut dikeluarkan. Setelah proses ini dilakukan, cairan gula siap
untuk proses selanjutnya berupa penghilangan warna. Selain karbonatasi, teknik
yang lain berupa fosfatasi. Secara kimiawi teknik ini sama dengan karbonatasi
tetapi yang terjadi adalah pembentukan fosfat dan bukan karbonat. Fosfatasi
merupakan proses yang sedikit lebih kompleks, dan dapat dicapai dengan
menambahkan asam fosfat ke cairan setelah liming seperti yang sudah dijelaskan
di atas.
9.Penghilangan
warna
Ada dua metoda
umum untuk menghilangkan warna dari sirup gula, keduanya mengandalkan pada
teknik penyerapan melalui pemompaan cairan melalui kolom-kolom medium. Salah
satunya dengan menggunakan karbon teraktivasi granular [granular activated
carbon, GAC] yang mampu menghilangkan hampir seluruh zat warna. GAC merupakan
cara modern setingkat “bone char”, sebuah granula karbon yang terbuat dari
tulang-tulang hewan. Karbon pada saat
ini terbuat dari pengolahan karbon mineral yang diolah secara khusus untuk
menghasilkan granula yang tidak hanya sangat aktif tetapi juga sangat kuat.
Karbon dibuat dalam sebuah oven panas dimana warna akan terbakar keluar dari
karbon. Cara yang lain adalah dengan menggunakan resin penukar ion yang
menghilangkan lebih sedikit warna daripada GAC tetapi juga menghilangkan
beberapa garam yang ada. Resin dibuat secara kimiawi yang meningkatkan jumlah
cairan yang tidak diharapkan. Cairan jernih dan hampir tak berwarna ini
selanjutnya siap untuk dikristalisasi kecuali jika jumlahnya sangat sedikit
dibandingkan dengan konsumsi energi optimum di dalam pemurnian. Oleh karenanya
cairan tersebut diuapkan sebelum diolah di panci kristalisasi.
10.Pendidihan
Sejumlah air
diuapkan di dalam panci sampai pada keadaan yang tepat untuk tumbuhnya kristal
gula. Sejumlah bubuk gula ditambahkan ke dalam cairan untuk mengawali/memicu
pembentukan kristal. Ketika kristal sudah tumbuh campuran dari kristal-kristal
dan cairan induk yang dihasilkan diputar dalam sentrifugasi untuk memisahkan
keduanya. Proses ini dapat diumpamakan dengan tahap pengeringan pakaian dalam mesin
cuci yang berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara
panas sebelum dikemas dan/ atau disimpan siap untuk didistribusikan.
Salah
satu penelitian mengenai obat COVID-19 menunjukkan hasil menggembirakan. Glenmark
Pharmaceuticals, perusahaan farmasi global yang menggandeng Sanotize Research
& Development Corp, mengumumkan kabar gembira dari uji klinis fase 3 Nitric
Oxide Nasal Spray (NONS) atau yang dikenal di Indonesia dengan nama Enovid Nose
Sanitizer. Seperti dilansir dari Antara Kamis 10 Februari 2022, hasil baik ini
berdasar pengujian Enovid Nose Sanitizer yang dilakukan pada pasien dewasa COVID-19
di 20 lokasi di India. Fase ke-3 ini mengevaluasi kemanjuran dan keamanan
Enovid Nose Sanitizer dibandingkan semprotan hidung saline pada pasien dewasa.
Percobaan
juga menganalisis pasien dengan risiko peningkatan gejala- pasien yang tidak
divaksinasi, pasien dalam kelompok usia menengah dan lebih tua, dan pasien
dengan penyakit penyerta atau komorbid. Enovid Nose Sanitizer yang di India diberi
nama Fabispray, ternyata menghasilkan "fresh nitric oxide" saat
disemprotkan ke hidung, dirancang untuk membunuh virus COVID-19 di saluran
pernapasan atas. Nitric Oxide Nasal Spray (NONS) ketika disemprotkan di atas
mukosa hidung bertindak sebagai penghalang dan pembunuh virus, pencegah
inkubasi dan penyebaran virus ke paru-paru.
Hasilnya,
jangka waktu penyembuhan COVID-19 untuk pasien yang diberikan Enovid rata-rata
adalah empat hari dibandingkan dengan 8 hari pada kelompok plasebo (tidak
diberikan Enovid). Penggunaan Enovid aman dan ditoleransi dengan baik oleh
pasien. Tidak ada pasien yang mengalami efek samping sedang, berat, serius atau
kematian dalam penelitian ini. Dr. Monika Tandon, Wakil Presiden Senior &
Kepala - Pengembangan Klinis, Glenmark Pharmaceuticals Ltd., dalam siaran pers
pada Kamis mengatakan bahwa hasil dari uji coba Fase 3 ini sangat memberi
dampak yang bagus. "Demonstrasi pengurangan viral load memiliki dampak
yang sangat membantu. Dalam skenario ini, dengan varian baru yang muncul
menunjukkan transmisibilitas tinggi, Enovid memberikan opsi yang berguna dalam
perjuangan India melawan COVID-19," katanya.
Sementara
itu, Dr. Gilly Regev selaku Co-Founder dan CEO Sanotize mengatakan hasil uji
klinis selanjutnya memperkuat kemanjuran produk seperti yang ditunjukkan oleh
uji coba Fase 2 di Inggris - dengan mitra globalnya, Glenmark, untuk melawan
COVID-19.
Varian
Baru Covid-19(OMICRON)
Ahli
virus dari Universitas Udhayana, Prof I Gusti Ngurah Kadek Mahardika mengatakan
sejauh ini belum ada data klinis yang menunjukkan varian baru ini membuat
gejala berat pada pasien. Bagaimanapun, kemungkinan varian baru "lebih
ganas dan kurang ganas" terhadap tubuh manusia. "Potensinya dua,
yaitu lebih ganas dan kurang ganas. Jadi perubahan itu selalu dua arah, tak
pernah satu arah," kata Prof I Gusti Ngurah Kadek Mahardika. Untuk
mengetahui hal tersebut diperlukan data lebih lanjut seperti uji tantang pada
hewan coba, termasuk "data klinis dari pasien, baru kita bisa berasosiasi
dengan patologi dan gejala klinis, dan juga keganasan virus". Menteri
Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan sejauh ini dampak dari varian baru
Covid-19 ini belum terkonfirmasi.
Kemenkes
mencatat sembilan negara terkonfirmasi varian Omicron dengan 128 kasus. Di
antaranya sebagian negara bagian Afrika Selatan, Hongkong, Inggris, Italia, dan
Belgia. "Jadi total 13 negara. Sembilan pasti ada. Empat masih kemungkinan
ada," kata Menkes Budi. Untuk negara-negara yang sudah terkonfirmasi ada,
yang paling banyak penerbangan ke Indonesia adalah "Hongkong, Italia,
Inggris, baru Afrika Selatan." "Untuk negara-negara yang kemungkinan
ada, paling besar dari Belanda, Jerman," kata Menkes Budi.