INDIKATOR KESEHATAN

3:51:00 PM Add Comment

Indikator Kesehatan
Indikator Kesehatan

Untuk mengukur keberhasilan Pembangunan kesehatan diperlukan indikator. Derajat kesehatan merupakan salah satu kelompok penting indikator Indonesia Sehat atau merupakan indikator hasil.

Gambaran tentang derajat kesehatan meliputi indikator Mortalitas (kematian), Morbiditas (kesakitan), dan Status Gizi. Angka mortalitas dapat dilihat dari Angka Kematian Bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup, Angka Kematian Balita (AKABA) per 1000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Ibu (AKI) per 100.000 kelahiran hidup. Angka Morbiditas dilihat dari angka kesakitan beberapa penyakit balita dan dewasa.

Selain dipengarui oleh faktor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sumber daya kesehatan, derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti faktor ekonomi, pendididkan, lingkungan, sosial serta faktor-faktor lain yang kondisinya indikator angka kesakitan Malaria per 1000 penduduk, Angka Kesembuhan TB Paru per 1000 penduduk, Angka Acute Flaccid Paralysis


SUBSISTEM SDM KESEHATAN

12:05:00 PM Add Comment

Subsistem SDM Kesehatan

            Subsistem SDM kesehatan adalah pengelolaan upaya  pengembangan dan pemberdayaan sumber daya  manusia kesehatan, yang meliputi: upaya perencanaan,  pengadaan, pendayagunaan, serta pembinaan dan  pengawasan mutu SDM kesehatan untuk mendukung  penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna  mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang  setinggi-tingginya. 





Ular Piton Putih Keemasan dan Klasifikasinya

8:30:00 PM Add Comment

 

Ular Piton

Ular piton atau yang juga biasa disebut ular sanca merupakan salah satu ular dari famili Pythonida. Salah satu jenis dari ular ini memiliki nama latin Malayopython reticulatus, yaitu sanca kembang. Sebaran ular sanca meliputi Afrika, Australia, Amerika, Asia, termasuk Indonesia. Piton merupakan ular tidak berbisa dengan panjang antara 1,5 meter hingga 6,5 meter, sedangkan untuk beratnya 1 kg hingga 75 kg. Ular piton umumnya ditemukan di padang rumput, hutan tropis ataupun perairan air tawar.  Pada beberapa kasus, ular piton diketahui memangsa manusia meski sebenarnya mangsa utama mereka bukanlah manusia. Sebab ular sanca umumnya memangsa burung, tikus, babi hutan, rusa ataupun monyet. Sedangkan jika hidup di sekitar pemukiman manusia, maka mereka akan memangsa anjing, kucing, ayam serta hewan ternak lainnya. Gaya berburu dari ular piton yaitu dengan menangkap mangsanya kemudian melilit kuat mangsanya hingga kehabisan nafas. Ular piton juga kerap menyerang mangsanya dengan cara melilit hingga tulang dada serta panggul remuk sehingga ini memudahkan ular piton untuk menelannya.

 1.      Taksonomi

Secara umum, ular sanca adalah anggota dari famili Pythonidae dengan klasifikasi sebagai berikut:

Kerajaan         

Filum  

Kelas  

Ordo   

Upaordo         

Infraordo        

Famili 

Animalia

Chordata

Reptilia

Squamata

Serpentes

Alethinophidia

Pythonidae

1.       

2.      Habitat & Sebaran

Tempat tinggal ular piton adalah kawasan hutan hujan tropis, sungai, hingga padang rumput. Reptil melata ini tersebar meliputi Afrika Sub-Sahara, Nepal, India, Sri Lanka, Myanmar, Tiongkok selatan, Asia Tenggara, serta mulai Filipina ke selatan hingga Indonesia, Papua Nugini, dan Australia. Di Amerika Serikat, terdapat salah satu spesies sanca, yaitu Python bivittatus atau sanca bodo yang menjadi spesies invasif sejak tahun 1990an.

 

3.      Ciri & Karakteristik

Meski piton dikenal sebagai ular ganas, namun ular ternyata memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a)    piton adalah ulat tidak berbisa

b)   piton tidak mampu melihat sekelilingnya secara jelas

c)    piton tidak bisa mendengar atau tuli

d)   piton mampu mendeteksi suhu disekitarnya

e)    piton sangat ahli mendeteksi gerakan

f)    piton akan memangsa sesuai dengan kebutuhan kalorinya

g)   Ular sanca mempunyai gigi tajam yang melengkung ke belakang,

h)   jumlah empat baris pada rahang atas,

i)     serta dua di rahang bawah.

j)     Gigi tersebut digunakan untuk menangkap mangsa kemudian melilitnya dengan sangat kuat hingga jantung mangsanya berhenti.

 

4.      Jenis Ular Piton

Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ada 13 jenis ular piton yang hidup di Indonesia, antara lain:

1)             Ular Sanca Batik

          Ular piton jenis sanca batik memiliki pola sisik menyerupai batik. Ular ini tersebar di seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ular sanca batik adalah salah satu reptil terpanjang di dunia dengan panjang mencapai 8 meter.

 

2)             Ular Sanca Bodo / Phyton Burma

          Ular piton jenis ini keberadaannya cukup langka karena sulit ditemukan di hutan yang menjadi habitat aslinya. Oleh karena kelangkaannya, seringkali membuat ular ini diperdagangkan.

 

3)             Ular Sanca Darah

          Ular sanca darah dapat ditemukan di kawasan hutan Sumatera. Karakteristik dari ular ini adalah bertubuh yang pendek dengan panjang maksimal sekitar 3 meter. Ular ini cenderung gemuk, warna tubuhnya kemerahan menyerupai darah sehingga disebut sebagai ular sanca darah.

 

4)             Ular Sanca Bulan

          Spesies piton ini hidup di hutan pegunungan Papua, tepatnya pada ketinggian lebih dari 1.750 meter di atas permukaan laut. Warna ular piton sanca bulan cenderung kehitaman dengan panjang tubuh dewasa sekitar 3 meter. Karena termasuk piton pendek, maka mangsa utamanya adalah reptil kecil.

 

5)             Ular Sanca Hijau

          Jenis piton hijau mempunya sisik berwarna hijau terang. Ukuran tubuhnya tidak terlalu panjang dan seringkali ditemukan di pepohonan. Warnanya yang hijau terkadang menyamarkan diri dari dedaunan. Habitat sanca hijau adalah kawasan hutan di Papua.

 

6)             Ular Piton Halmahera

          Ular piton jenis ini mirip dengan sanca permata, namun hanya tersebar di wilayah Halmahera meliputi Ternate, Tidore hingga Tanibar.

 

7)             Ular Piton Maluku

          Karakteristik utama dari ular piton maluku adalah warna tubuhnya yang cokelat terang. Sebaran utamanya berada di kawasan Maluku dan sekitarnya.

 

8)             Ular Sanca Pelangi

          Tidak seperti namanya, sebeanrnya sanca pelangi memiliki warna cokelat, tetapi akan menyerupai pelangi bila terkena sinar matahari. Ular piton jenis ini aktif hanya pada malam hari, sedangkan pada siang hari biasanya ular ini akan bersembunyi di vegetasi atau di sekitar sungai.

 

9)             Ular Sanca Mata Putih

          Seperti namanya, ular piton mata putih mempunyai mata berwarna putih. Panjang tubuhnya hanya sekitar 1,5 meter. Ular ini seringkali disebut sebagai ular piton terkecil di dunia. Mangsa piton jenis ini adalah tikus dan hewan lain berukuran sedang. Sebaran utama sanca putih berada di daerah Papua.

 

10)         Ular Sanca Cokelat

          Piton jenis ini memiliki kulit sisik berwarna cokelat yang tampak mengkilap bila terkena cahaya. Panjang ular sanca cokelat tidak lebih dari 2,5 meter. Habitat ular piton cokelat adalah pedalaman hutan Papua.

 

11)         Ular Darah Hitam

          Ular piton darah hitam tersebar di kawasan Sumatera. Ular ini memiliki ciri tubuh pendek. Warna tubuhnya cenderung gelap dan menjadi salah satu incaran pedagang kulit hewan. Alasannya adalah karena ular ini mempunyai kulit dengan pola menarik untuk bahan dasar tas, sepatu dan aksesoris lainnya.

 

12)         Ular Piton Puraca

          Piton puraca memiliki warna kulit dominan cokelat dengan ukuran panjang sekitar 3 meter. Ular ini seringkali disebut sebagai ripung atau lipung.

 

13)         Ular Sanca Permata

          Sanca permata dapat dijumpai di hutan-hutan di Papua. Karakteristik utama dari ular ini adalah warna kulitnya yang terang menyerupai permata. Ular ini menjadi ular sanca terpanjang yang pernah ditemukan di Indonesia, yakni sepanjang 8,5 meter. Ukuran tersebut terbilang langka karena biasanya ukurannya hanya mencapai 5 meter.

 

 


Tahapan Pembuatan Gula Pasir Dengan Tebu

7:40:00 PM Add Comment

 

Pembuatan Gula dari Tebu 

Tebu adalah tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula. Tebu ini termasuk jenis rumput-rumputan. Tanaman tebu dapat tumbuh hingga 3 meter di kawasan yang mendukung. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1 tahun. Tebu dapat dipanen dengan cara manual atau menggunakan mesin-mesin pemotong tebu. Daun kemudian dipisahkan dari batang tebu, kemudian baru dibawa kepabrik untuk diproses menjadi gula.

Tahapan-tahapan dalam proses pembuatan gula dimulai dari :

1.      Penanaman tebu,

2.      Proses ektrasi,

3.      Pembersihan kotoran,

4.      Penguapan,

5.      Kritalisasi,

6.      Afinasi,

7.      Karbonasi,

8.      Penghilangan warna,

9.      Proses pengepakan

10.  Sampai ketangan konsumen.

 

1.      Ekstraksi

Tahap pertama pembuatan gula tebu adalah ekstraksi jus atau sari tebu. Caranya dengan menghancurkan tebu dengan mesin penggiling untuk memisahkan ampas tebu dengan cairannya. Cairan tebu kemudian dipanaskan dengan boiler. Jus yang dihasilkan masih berupa cairan yang kotor: sisa-sisa tanah dari lahan, serat-serat berukuran kecil dan ekstrak dari daun dan kulit tanaman, semuanya bercampur di dalam gula.


2.      Ekstraksi

Jus dari hasil ekstraksi mengandung sekitar 50 % air, 15% gula dan serat residu, dinamakan bagasse, yang mengandung 1 hingga 2% gula. Dan juga kotoran seperti pasir dan batu-batu kecil dari lahan yang disebut sebagai “abu”.

 

 

3.      Pengendapan kotoran dengan kapur (Liming)

Jus tebu dibersihkan dengan menggunakan semacam kapur (slaked lime) yang akan mengendapkan sebanyak mungkin kotoran , kemudian kotoran ini dapat dikirim kembali ke lahan. Proses ini dinamakan liming. Jus hasil ekstraksi dipanaskan sebelum dilakukan liming untuk mengoptimalkan proses penjernihan. Kapur berupa kalsium hidroksida atau Ca(OH)2 dicampurkan ke dalam jus dengan perbandingan yang diinginkan dan jus yang sudah diberi kapur ini kemudian dimasukkan ke dalam tangki pengendap gravitasi: sebuah tangki penjernih (clarifier). Jus mengalir melalui clarifier dengan kelajuan yang rendah sehingga padatan dapat mengendap dan jus yang keluar merupakan jus yang jernih. Kotoran berupa lumpur dari clarifier masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya dilakukan penyaringan dalam penyaring vakum putar (rotasi) dimana jus residu diekstraksi dan lumpur tersebut dapat dibersihkan sebelum dikeluarkan, dan hasilnya berupa cairan yang manis. Jus dan cairan manis ini kemudian dikembalikan ke proses.

 

4.      Penguapan (Evaporasi)

Setelah mengalami proses liming, proses evaporasi dilakukan untuk mengentalkan jus menjadi sirup dengan cara menguapkan air menggunakan uap panas (steam). Terkadang sirup dibersihkan lagi tetapi lebih sering langsung menuju ke tahap pembuatan kristal tanpa adanya pembersihan lagi. Jus yang sudah jernih mungkin hanya mengandung 15% gula tetapi cairan (liquor) gula jenuh (yaitu cairan yang diperlukan dalam proses kristalisasi) memiliki kandungan gula hingga 80%. Evaporasi dalam ‘evaporator majemuk’ (multiple effect evaporator) yang dipanaskan dengan steam merupakan cara yang terbaik untuk bisa mendapatkan kondisi mendekati kejenuhan (saturasi).

 

5.      Pendidihan/ Kristalisasi

Pada tahap akhir pengolahan, sirup ditempatkan ke dalam wadah yang sangat besar untuk dididihkan. Di dalam wadah ini air diuapkan sehingga kondisi untuk pertumbuhan kristal gula tercapai. Pembentukan kristal diawali dengan mencampurkan sejumlah kristal ke dalam sirup. Sekali kristal terbentuk, kristal campur yang dihasilkan dan larutan induk (mother liquor) diputar di dalam alat sentrifugasi untuk memisahkan keduanya, bisa diumpamakan seperti pada proses mencuci dengan menggunakan pengering berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum disimpan. Larutan induk hasil pemisahan dengan sentrifugasi masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya kristalisasi diulang beberapa kali. Sayangnya, materi-materi non gula yang ada di dalamnya dapat menghambat kristalisasi. Hal ini terutama terjadi karena keberadaan gula-gula lain seperti glukosa dan fruktosa yang merupakan hasil pecahan sukrosa. Olah karena itu, tahapan-tahapan berikutnya menjadi semakin sulit, sampai kemudian sampai pada suatu tahap di mana kristalisasi tidak mungkin lagi dilanjutkan. Sebagai tambahan, karena gula dalam jus tidak dapat diekstrak semuanya, maka terbuatlah produk samping (byproduct) yang manis: molasses. Produk ini biasanya diolah lebih lanjut menjadi pakan ternak atau ke industri penyulingan untuk dibuat alkohol (etanol) . Belakangan ini molases dari tebu di olah menjadi bahan energi alternatif dengan meningkatkan kandungan etanol sampai 99,5%.

 

6.      Penyimpanan

Gula kasar yang dihasilkan akan membentuk gunungan coklat lengket selama penyimpanan dan terlihat lebih menyerupai gula coklat lunak yang sering dijumpai di dapur-dapur rumah tangga. Gula ini sebenarnya sudah dapat digunakan, tetapi karena kotor dalam penyimpanan dan memiliki rasa yang berbeda maka gula ini biasanya tidak diinginkan orang. Oleh karena itu gula kasar biasanya dimurnikan lebih lanjut ketika sampai di negara pengguna.

 

7.      Afinasi (Affination)

Tahap pertama pemurnian gula yang masih kasar adalah pelunakan dan pembersihan lapisan cairan induk yang melapisi permukaan kristal dengan proses yang dinamakan dengan “afinasi”. Gula kasar dicampur dengan sirup kental (konsentrat) hangat dengan kemurnian sedikit lebih tinggi dibandingkan lapisan sirup sehingga tidak akan melarutkan kristal, tetapi hanya sekeliling cairan (coklat). Campuran hasil (‘magma’) di-sentrifugasi untuk memisahkan kristal dari sirup sehingga kotoran dapat dipisahkan dari gula dan dihasilkan kristal yang siap untuk dilarutkan sebelum proses karbonatasi. Cairan yang dihasilkan dari pelarutan kristal yang telah dicuci mengandung berbagai zat warna, partikel-partikel halus, gum dan resin dan substansi bukan gula lainnya. Bahan-bahan ini semua dikeluarkan dari proses.

 

8.       Karbonatasi

Tahap pertama pengolahan cairan (liquor) gula berikutnya bertujuan untuk membersihkan cairan dari berbagai padatan yang menyebabkan cairan gula keruh. Pada tahap ini beberapa komponen warna juga akan ikut hilang. Salah satu dari dua teknik pengolahan umum dinamakan dengan karbonatasi. Karbonatasi dapat diperoleh dengan menambahkan kapur/ lime [kalsium hidroksida, Ca(OH)2] ke dalam cairan dan mengalirkan gelembung gas karbondioksida ke dalam campuran tersebut. Gas karbondioksida ini akan bereaksi dengan lime membentuk partikel-partikel kristal halus berupa kalsium karbonat yang menggabungkan berbagai padatan supaya mudah untuk dipisahkan. Supaya gabungan-gabungan padatan tersebut stabil, perlu dilakukan pengawasan yang ketat terhadap kondisi-kondisi reaksi. Gumpalan-gumpalan yang terbentuk tersebut akan mengumpulkan sebanyak mungkin materi-materi non gula, sehingga dengan menyaring kapur keluar maka substansi-substansi non gula ini dapat juga ikut dikeluarkan. Setelah proses ini dilakukan, cairan gula siap untuk proses selanjutnya berupa penghilangan warna. Selain karbonatasi, teknik yang lain berupa fosfatasi. Secara kimiawi teknik ini sama dengan karbonatasi tetapi yang terjadi adalah pembentukan fosfat dan bukan karbonat. Fosfatasi merupakan proses yang sedikit lebih kompleks, dan dapat dicapai dengan menambahkan asam fosfat ke cairan setelah liming seperti yang sudah dijelaskan di atas.

 

9.      Penghilangan warna

Ada dua metoda umum untuk menghilangkan warna dari sirup gula, keduanya mengandalkan pada teknik penyerapan melalui pemompaan cairan melalui kolom-kolom medium. Salah satunya dengan menggunakan karbon teraktivasi granular [granular activated carbon, GAC] yang mampu menghilangkan hampir seluruh zat warna. GAC merupakan cara modern setingkat “bone char”, sebuah granula karbon yang terbuat dari tulang-tulang hewan. Karbon pada saat ini terbuat dari pengolahan karbon mineral yang diolah secara khusus untuk menghasilkan granula yang tidak hanya sangat aktif tetapi juga sangat kuat. Karbon dibuat dalam sebuah oven panas dimana warna akan terbakar keluar dari karbon. Cara yang lain adalah dengan menggunakan resin penukar ion yang menghilangkan lebih sedikit warna daripada GAC tetapi juga menghilangkan beberapa garam yang ada. Resin dibuat secara kimiawi yang meningkatkan jumlah cairan yang tidak diharapkan. Cairan jernih dan hampir tak berwarna ini selanjutnya siap untuk dikristalisasi kecuali jika jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan konsumsi energi optimum di dalam pemurnian. Oleh karenanya cairan tersebut diuapkan sebelum diolah di panci kristalisasi.

 

10.  Pendidihan

Sejumlah air diuapkan di dalam panci sampai pada keadaan yang tepat untuk tumbuhnya kristal gula. Sejumlah bubuk gula ditambahkan ke dalam cairan untuk mengawali/memicu pembentukan kristal. Ketika kristal sudah tumbuh campuran dari kristal-kristal dan cairan induk yang dihasilkan diputar dalam sentrifugasi untuk memisahkan keduanya. Proses ini dapat diumpamakan dengan tahap pengeringan pakaian dalam mesin cuci yang berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum dikemas dan/ atau disimpan siap untuk didistribusikan.




Apa itu COVID-19 dan OMICRON ?

6:26:00 PM Add Comment
Omicron
Omicron 

Salah satu penelitian mengenai obat COVID-19 menunjukkan hasil menggembirakan. Glenmark Pharmaceuticals, perusahaan farmasi global yang menggandeng Sanotize Research & Development Corp, mengumumkan kabar gembira dari uji klinis fase 3 Nitric Oxide Nasal Spray (NONS) atau yang dikenal di Indonesia dengan nama Enovid Nose Sanitizer. Seperti dilansir dari Antara Kamis 10 Februari 2022, hasil baik ini berdasar pengujian Enovid Nose Sanitizer yang dilakukan pada pasien dewasa COVID-19 di 20 lokasi di India. Fase ke-3 ini mengevaluasi kemanjuran dan keamanan Enovid Nose Sanitizer dibandingkan semprotan hidung saline pada pasien dewasa.

Percobaan juga menganalisis pasien dengan risiko peningkatan gejala- pasien yang tidak divaksinasi, pasien dalam kelompok usia menengah dan lebih tua, dan pasien dengan penyakit penyerta atau komorbid. Enovid Nose Sanitizer yang di India diberi nama Fabispray, ternyata menghasilkan "fresh nitric oxide" saat disemprotkan ke hidung, dirancang untuk membunuh virus COVID-19 di saluran pernapasan atas. Nitric Oxide Nasal Spray (NONS) ketika disemprotkan di atas mukosa hidung bertindak sebagai penghalang dan pembunuh virus, pencegah inkubasi dan penyebaran virus ke paru-paru.

Hasilnya, jangka waktu penyembuhan COVID-19 untuk pasien yang diberikan Enovid rata-rata adalah empat hari dibandingkan dengan 8 hari pada kelompok plasebo (tidak diberikan Enovid). Penggunaan Enovid aman dan ditoleransi dengan baik oleh pasien. Tidak ada pasien yang mengalami efek samping sedang, berat, serius atau kematian dalam penelitian ini. Dr. Monika Tandon, Wakil Presiden Senior & Kepala - Pengembangan Klinis, Glenmark Pharmaceuticals Ltd., dalam siaran pers pada Kamis mengatakan bahwa hasil dari uji coba Fase 3 ini sangat memberi dampak yang bagus. "Demonstrasi pengurangan viral load memiliki dampak yang sangat membantu. Dalam skenario ini, dengan varian baru yang muncul menunjukkan transmisibilitas tinggi, Enovid memberikan opsi yang berguna dalam perjuangan India melawan COVID-19," katanya. 

Sementara itu, Dr. Gilly Regev selaku Co-Founder dan CEO Sanotize mengatakan hasil uji klinis selanjutnya memperkuat kemanjuran produk seperti yang ditunjukkan oleh uji coba Fase 2 di Inggris - dengan mitra globalnya, Glenmark, untuk melawan COVID-19.

 

Varian Baru Covid-19  (OMICRON)

Ahli virus dari Universitas Udhayana, Prof I Gusti Ngurah Kadek Mahardika mengatakan sejauh ini belum ada data klinis yang menunjukkan varian baru ini membuat gejala berat pada pasien. Bagaimanapun, kemungkinan varian baru "lebih ganas dan kurang ganas" terhadap tubuh manusia. "Potensinya dua, yaitu lebih ganas dan kurang ganas. Jadi perubahan itu selalu dua arah, tak pernah satu arah," kata Prof I Gusti Ngurah Kadek Mahardika. Untuk mengetahui hal tersebut diperlukan data lebih lanjut seperti uji tantang pada hewan coba, termasuk "data klinis dari pasien, baru kita bisa berasosiasi dengan patologi dan gejala klinis, dan juga keganasan virus". Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan sejauh ini dampak dari varian baru Covid-19 ini belum terkonfirmasi.

Kemenkes mencatat sembilan negara terkonfirmasi varian Omicron dengan 128 kasus. Di antaranya sebagian negara bagian Afrika Selatan, Hongkong, Inggris, Italia, dan Belgia. "Jadi total 13 negara. Sembilan pasti ada. Empat masih kemungkinan ada," kata Menkes Budi. Untuk negara-negara yang sudah terkonfirmasi ada, yang paling banyak penerbangan ke Indonesia adalah "Hongkong, Italia, Inggris, baru Afrika Selatan." "Untuk negara-negara yang kemungkinan ada, paling besar dari Belanda, Jerman," kata Menkes Budi.

Sumber : Tempo & BBC






Unggulan Post

Warna Feses Bisa Menunjukkan Kondisi Kesehatan Anda.

Karikatur Fese dalam usus manusia  Feses merupakan hasil kotoran dari proses pencernaan. Kotoran ini terdiri dari sisa-sisa makanan yang tid...